Fungsi Bahasa, Ragam dan Laras Bahasa

Oktober 3, 2010

BAB 1

1. Pengertian Bahasa

Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.
2. Aspek Bahasa
Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna tertentu pula. Simbol adalah tanda yang diberikan makna tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya,itu. Bunyi itu juga merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita (=yang diserap oleh panca indra kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan

reaksi atau tanggapan dari orang lain).
Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbitrer atau manasuka. Arbitrer atau manasuka berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu rangkaian bunyi tertentu harus mengandung arti yang tertentu pula. Apakah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu dinamakan anjing, dog, hund, chien atau canis itu tergantung dari kesepakatan anggota masyarakat bahasa itu masing-masing.

3. Benarkah Bahasa Mempengaruhi Perilaku Manusia?
Menurut Sabriani (1963), mempertanyakan bahwa apakah bahasa mempengaruhi perilaku manusia atau tidak? Sebenarnya ada variabel lain yang berada diantara variabel bahasa dan perilaku. Variabel tersebut adalah variabel realita. Jika hal ini benar, maka terbukalah peluang bahwa belum tentu bahasa yang mempengaruhi perilaku manusia, bisa jadi realita atau keduanya.
Kehadiran realita dan hubungannya dengan variabel lain, yakni bahasa dan perilaku, perlu dibuktikan kebenarannya. Selain itu, perlu juga dicermati bahwa istilah perilaku menyiratkan penutur. Istilah perilaku merujuk ke perilaku penutur bahasa, yang dalam artian komunikasi mencakup pendengar, pembaca, pembicara, dan penulis.

3. 1. Bahasa dan Realita
Fodor (1974) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol dan tanda. Yang dimaksud dengan sistem simbol adalah hubungan simbol dengan makna yang bersifat konvensional. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem tanda adalah bahwa hubungan tanda dan makna bukan konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri tertentu yang dimiliki benda atau situasi yang dimaksud. Dalam bahasa Indonesia kata cecak memiliki hubungan kausal dengan referennya atau binatangnya. Artinya, binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengaran seperti cak-cak-cak. Oleh karena itu kata cecak disebut tanda bukan simbol. Lebih lanjut Fodor mengatakan bahwa problema bahasa adalah problema makna. Sebenarnya, tidak semua ahli bahasa membedakan antara simbol dan tanda.

Richards (1985) menyebut kata table sebagai tanda meskipun tidak ada hubungan kausal antara objek (benda) yang dilambangkan kata itu dengan kata table.
Dari uraian di atas dapat ditangkap bahwa salah satu cara mengungkapkan makna adalah dengan bahasa, dan masih banyak cara yang lain yang dapat dipergunakan. Namun sejauh ini, apa makna dari makna, atau apa yang dimaksud dengan makna belum jelas. Bolinger (1981) menyatakan bahwa bahasa memiliki sistem fonem, yang terbentuk dari distinctive features bunyi, sistem morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia di luar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti inilah disebut realita.
Penjelasan Bolinger (1981) tersebut menunjukkan bahwa makna adalah hubungan antara realita dan bahasa. Sementara realita mencakup segala sesuatu yang berada di luar bahasa. Realita itu mungkin terwujud dalam bentuk abstraksi bahasa, karena tidak ada bahasa tanpa makna. Sementara makna adalah hasil hubungan bahasa dan realita.

3.2. Bahasa dan Perilaku
Seperti yang telah diuraikan di atas, dalam bahasa selalu tersirat realita. Sementara perilaku selalu merujuk pada pelaku komunikasi. Komunikasi bisa terjadi jika proses decoding dan encoding berjalan dengan baik. Kedua proses ini dapat berjalan dengan baik jika baik encoder maupun decoder sama-sama memiliki pengetahuan dunia dan pengetahuan bahasa yang sama. (Omaggio, 1986).
Dengan memakai pengertian yang diberikan oleh Bolinger(1981) tentang realita, pengetahuan dunia dapat diartikan identik dengan pengetahuan realita. Bagaimana manusia memperoleh bahasa dapat dijelaskan dengan teori-teori pemerolehan bahasa. Sedangkan pemerolehan pengetahuan dunia (realita) atau proses penghubungan bahasa dan realita pada prinsipnya sama, yakni manusia memperoleh representasi mental realita melalui pengalaman yang langsung atau melalui pemberitahuan orang lain. Misalnya seseorang menyaksikan sebuah kecelakaan terjadi, orang tersebut akan memiliki representasi mental tentang kecelakaan tersebut dari orang yang langsung menyaksikannya juga akan
membentuk representasi mental tentang kecelakaan tadi. Hanya saja terjadi perbedaan representasi mental pada kedua orang itu.

4. Fungsi Bahasa
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia
persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.

4.1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan
lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).

4.2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi
semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

4.3 Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

4.4 Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

5. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Bahasa bukan sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang berlaku.
Ungkapan “Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kita tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut. Permasalahannya adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika mendengar ungkapan tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang dijadikan alat ukur (kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang benar?

5.1 Bahasa yang Baik
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan, misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh berbeda.
Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan, isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan. Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan adalah gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan.
Marilah kita gunakan contoh sebuah majalah atau buku. Pengirim pesan dapat berupa penulis artikel atau penulis cerita, baik komik, dongeng, atau narasi. Isi pesan adalah permasalahan atau cerita yang ingin disampaikan atau dijelaskan. Media pesan merupakan majalah, komik, atau buku cerita. Semua bentuk tertulis itu disampaikan kepada pembaca yang dituju. Cara artikel atau cerita itu disampaikan tentu disesuaikan dengan pembaca yang dituju. Berarti, dalam pembuatan tulisan itu akan diperhatikan jenis permasalahan, jenis cerita, dan kepada siapa tulisan atau cerita itu ditujukan.

5.2 Bahasa yang Benar
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa. Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita akan mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata bunyi (fonologi), (2)tata bahasa (kata dan kalimat), (3) kosa kata (termasuk istilah), (4), ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah menerima bunyi f, v dan z. Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar, motif, aktif, variabel, vitamin, devaluasi, zakat, izin, bukan pajar, motip, aktip, pariabel, pitamin, depaluasi, jakat, ijin. Masalah lafal juga termasuk aspek tata bumi. Pelafalan yang benar adalah kompleks, transmigrasi, ekspor, bukan komplek, tranmigrasi, ekspot.
Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya, bentuk yang benar adalah ubah, mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan pertanggungjawaban, bukan obah, robah, rubah, nyari, kedesak, ngebut, tegakan dan pertanggung jawaban. Dari segi kalimat pernyataan di bawah ini tidak benar karena tidak mengandung subjek. Kalimat mandiri harus mempunyai subjek, predikat atau dan objek.
(1) Pada tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah pria.
Jika kata pada yang mengawali pernyataan itu ditiadakan, unsur tabel di atas menjadi subjek. Dengan demikian, kalimat itu benar. Pada aspek kosa kata, kata-kata seperti bilang, kasih, entar dan udah lebih baik diganti dengan berkata/mengatakan, memberi, sebentar, dan sudah dalam penggunaan bahasa yang benar. Dalam hubungannya dengan peristilahan, istilah dampak (impact), bandar udara, keluaran (output), dan pajak tanah (land tax) dipilih sebagai istilah yang benar daripada istilah pengaruh, pelabuhan udara, hasil, dan pajak bumi. Dari
segi ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, sistem, objek, jadwal, kualitas, dan hierarki. Dari segi maknanya, penggunaan bahasa yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan makna. Misalnya dalam bahasa ilmu tidak tepat jika digunakan kata yang sifatnya konotatif (kiasan). Jadi penggunaan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa.
Kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang benar tergambar dalam penggunaan kalimat-kalimat yang gramatikal, yaitu kalimat-kalimat yang memenuhi kaidah tata bunyi (fonologi), tata bahasa, kosa kata, istilah, dan ejaan. Penggunaan bahasa yang baik terlihat dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu kalimat-kalimat yang dapat menyampaikan pesan/informasi secara tepat (Dendy Sugondo, 1999 : 21)..
Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu hanus merupakan bahasa standar. Sebaliknya, penggunaan bahasa standar tidak selalu berarti bahwa bahasa itu baik dan benar. Sebaiknya, kita menggunakan ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar.

BAB 2
Ragam dan Laras Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.

Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yaitu (1) ragam bahasa lisan, (2) ragam bahasa tulis. Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.

Rizka Amalia

PROGRAM SUBSIDI PEMERINTAH

April 15, 2010

PROGRAM SUBSIDI PEMERINTAH

Latar Belakang

Subsidi pemerintah menjadi sebuah jaringan penting dalam sebuah negara. Yang berperan sebagai bukti nyata adanya tanggung jawab pemerintah dalam rangka mensejahterakan masyarakatnya. Dampak dari sebuah kesejahteraan tidak semata-mata terkandung permasalahan ekonomi saja. Mengapa pemerintah begitu konsen terhadap permasalahan ekonomi, karena kondisi ekonomi yang mapan dapat memberikan jaminan sehatnya kondisi non-ekonomi lainnya. Misalnya saja pendidikan, kriminalitas, kesehatan bahkan iklim politik. Isu-isu yang terkait dengan sektor-sektor tersebut tidaklah terlepas dari keberadaan kondisi ekonomi suatu negara.

Manusia sebagai pelaku ekonomi tentunya memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam rangka memenuhi kebutuhan. Hal ini tentu saja dapat menciptakan kemiskinan dan ketimpangan secara masif pada suatu wilayah perekonomian. Di sinilah bahasan subsidi masuk ke dalam permasalahan sebagai sebuah solusi. Subsidi dianggap mampu berfungsi sebagai alat peningkatan daya beli masyarakat serta dapat meminimalisasi ketimpangan akan akses barang dan jasa. Oleh karena itu, cita-cita kemakmuran suatu bangsa dapat dicapai salah satunya dengan kebijakan subsidi tersebut. Terlihat jelas bahwa peran pemerintah sangatlah memegang posisi penting akan keberlangsungan program subsidi.

Namun, dalam perjalanannya, subsidi tidak luput dari berbagai kritikan. Mulai dari aspek kepentingan politik hingga ketepatan sasaran pihak penerima subsidi. Subsidi pemerintah juga dipengaruhi oleh aspek politik. Contohnya: Bantuan tunai langsung itu dipengaruhi oleh politik,  karena adanya janji-janji presiden dulu saat kampanye pemilu. Begitu juga dengan subsidi BBM, dulu mereka menjanjikan untuk harga BBM selalu murah. Studi kasus tentang subsidi di Indonesia sendiri telah menyeruak dalam berbagai argumen di kalangan elit. Tentunya permasalahan ini sangat menarik untuk diangkat, dengan mencari sebuah jawaban akan eksistensi subsidi yang lebih baik.

A.Teori Program Subsidi Pemerintah

Sebenarnya kapan subsidi pertama kali muncul dan diterapkan oleh siapa? Subsidi pertama kali dipakai di Inggris pada abad 10-11 di bawah kekuasaan Raja Charles II. Namun, subsidi baru berkembang/meluas pada abad 20. Sejak saat itu program-program subsidi menjadi sebuah cara yang lazim digunakan pemerintah dalam anggaran keuangannya.

Adapun beberapa landasan pokok dalam penerapan subsidi antara lain:

  1. Suatu bantuan yang bermanfaat yang diberikan oleh pemerintah kepada kelompok-kelompok atau individu-individu yang biasanya dalam bentuk cash payment atau potongan pajak.
  2. Diberikan dengan maksud untuk mengurangi beberapa beban dan fokus pada keuntungan atau manfaat bagi masyarakat.
  3. Subsidi didapat dari pajak. Jadi, uang pajak yang dipungut oleh pemerintah akan kembali lagi ke tangan masyarakat melalui pemberian subsidi.

Dapat dilihat di sini bahwa subsidi menjadi sebuah alat pemerintah dalam melakukan distribusi pendapatan masyarakat. Adapun untuk Indonesia, beberapa macam subsidi:

    1. Price distorting subsidies: merupakan bantuan pemerintah kepada masyarakat dalam bentuk pengurangan harga di bawah harga pasar sehingga menstimulus masyarakat untuk meningkatkan konsumsi atau pembelian komoditi tersebut. Harga yang dibayarkan lebih rendah dari harga pasar, dan pemerintah yang menanggung atau membayar selisih harga tersebut. Contoh dari subsidi ini antara lain :
  1. potongan harga/tarif listrik
  2. potongan harga untuk sewa rumah
  3. potongan harga pupuk
  4. beras miskin
  5. biaya sekolah (BOS)
  6. potongan harga BBM
    1. Cash grant: merupakan bantuan pemerintah kepada masyarakat dalam dengan memberikan sejumlah uang tunai dan alokasi konsumsi akan uang tersebut diserahkan sepenuhnya oleh masyarakat. Contohnya: bantuan tunai langsung.
    2. Kelonggaran atau potongan pajak.

Selain, itu subsidi itu diberlakukan hanya jika keuntungan (manfaat) yang diperoleh lebih besar daripada jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pemberian subsidi. Meskipun subsidi ada untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, mereka mengakibatkan pajak yang lebih tinggi atau peningkatan harga untuk barang-barang konsumen. Logikanya: karena subsidi meningkat maka pajak yang dipungut juga meningkat karena pajak merupakan sumber dana untuk subsidi, sehingga harga-harga barang pun juga akan meningkat karena adanya tuntutan pajak yang semakin naik. Ini semua tentu saja menuntut kehati-hatian pemerintah dalam memutuskan kebijakan subsidi. Karena bila tujuan subsidi yang pada awalnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara keseluruhan berubah menjadi sebuah keputusan yang hanya memberikan keuntungan bagi segelintir golongan.

Di Indonesia sendiri, kebijakan subsidi yang paling santer terdengar adalah subsidi harga BBM. Hal ini mengingat BBM sebagai sebuah komoditi yang strategis dan berkenaan akan kepentingan publik. Tingginya harga pasar minyak tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang baik. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meredistribusi pendapatan guna mengurangi kesenjangan antar anggota masyarakat. Program-program yang ditetapkan tidak jarang menuai kritikan di antara pihak yang berseberangan dan kepentingan.

B. Tinjauan Subsidi Program Pemerintah

Dari hasil analisa teori, terlihat jelas bahwa kebijakan dengan subsidi cash grant lebih baik ketimbang Price distorting subsidies. Lalu bagaimana kasus yang terjadi di Indonesia mengenai hal ini. Cash grant yang biasa dikenal dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) mulai diterapkan di Indonesia seiring dengan terus meningkatnya komoditi-komoditi yang biasa disubsidi pemerintah (dalam hal ini adalah BBM). Harga minyak internasional terus mengalami peningkatan bahkan mencapai harga 64 dolar AS per barel. Kenaikan harga itu menyebabkan tekanan kepada APBN 2005 khususnya terhadap alokasi subsidi yang diperkirakan mencapai di atas Rp100 triliun.

Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan pendekatan subsidi secara langsung yang tertuang dalam BLT. Akan tetapi, Kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rumah tangga miskin sebagai kompensasi pengurangan subsidi BBM telah menimbulkan kontroversi dan masalah baru. Apakah manfaat dari program ini lebih besar daripada ongkos politik serta ongkos sosial yang sudah maupun akan timbul? Memang menjadi sebuah hal yang dilematis dalam proses perkembangan ekonomi Indonesia.

Secara politis, pemerintah menyajikan seakan BLT satu paket dengan kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005. Padahal, payung hukum BLT adalah Inpres No 12/2005 tentang Pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai Kepada Rumah Tangga Miskin yang dikeluarkan dan berlaku mulai 10 September 2005. Dengan demikian, Inpres ini dikeluarkan jauh sebelum DPR mengesahkan UU tentang Perubahan atas UU APBN 2005 pada 27 September 2005. Juga berlaku sebelum terbitnya Perpres No 55/2005 tentang Harga Jual Eceran BBM di dalam Negeri yang dikeluarkan 30 September 2005.

Selain itu pula, Jika ditinjau dari sisi waktu keluarnya payung hukum hingga pelaksanaan yang hanya 21 hari, sangat terasa kebijakan BLT terburu-buru dan dipaksakan. Tidak mengherankan jika kemudian timbul banyak masalah. Antara lain belum adanya kesamaan pemahaman antara berbagai instansi pemerintah, media, maupun masyarakat. Hal itu terlihat dari penggunaan istilah yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya Program Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS), Dana Kompensasi BBM (DKB), atau Bantuan Tunai Langsung (BTL). Ini bukti lemahnya sosialisasi pemerintah tentang program ini.

Selain itu ada pula kasus salah sasaran. Ada keluarga yang rumahnya berlantai keramik, punya listrik, telepon, dan sepeda motor yang menerima kartu BLT. Sedangkan keluarga yang lebih miskin justru tidak menerima. Pemerintah sendiri tampak tidak satu persepsi tentang kriteria rakyat/rumah tangga miskin yang layak menerima BLT. Itu terlihat dari pernyataan di media massa maupun rapat-rapat di DPR. Ada versi BPS yang menggunakan parameter konsumsi 2.100 kalori per hari yang jelas berbeda dengan kriteria BKKBN maupun Pemda.

Soal pendataan memang menjadi titik lemah utama. Kebanyakan warga tidak mengetahui kapan dilakukan pendataan. Warga juga tidak mengetahui secara pasti kriteria rumah tangga miskin yang berhak menerima BLT. Selain itu, sebagian warga bekerja di luar daerah domisili sebagaimana tertera dalam dokumen kependudukan, sehingga tidak terdaftar atau terdaftar secara ganda di tempat domisili dan di daerah tempat bekerja. Akibat lemahnya sistem pendataan, sebagian warga yang benar-benar miskin justru tidak terdata. Sebagian warga miskin itu juga merasa tidak/belum terdata. Sebagian lainnya merasa sudah pernah didata tapi dicoret/dibatalkan. Permasalahan lain dalam pendataan adalah misal dalam satu keluarga, belum tentu memiliki beban yang sama (jumlah tanggungan anak dan istri), sehingga untuk mengatasi hal ini penggunaan metode BLT menuntut data akurat dan terpercaya. Padahal untuk Indonesia perkembangan sistem informasi masih dianggap kurang.

Selain itu pemerintah tidak dapat menjamin apakah dana yang diberikan secara tunai tersebut digunakan dengan bijak oleh masyarakat. Dalam kata lain, BTL mengasumsikan tidak ada moral hazard dalam teorinya. Hal ini menuntut pengetahuan pemerintah akan budaya dan moral sebuah entitas kemasyarakatan. Secara ringkas kelemahan-kelemahan BLT adalah sebagai berikut:

  1. Data base-nya tidak relevant (ada asymmetric information) untuk mendapat data potensial miskin.
  2. Sistem nilai masyarakat yang masih rendah. Jadi, BLT tidak digunakan untuk tambahan biaya modal usaha melainkan digunakan untuk konsumsi terus-menerus.
  3. Ada kelemahan survey kemiskinan di Indonesia, yaitu apabila BLT diberikan, bukan berarti masyarakat langsung bisa dikatakan kaya dalam sekejap, karena itu hanya dalam kurun waktu yang singkat (2-3 bulan). Sehingga dengan pemberian BLT, belum tentu tingkat kemiskinan dapat menurun.

Kesimpulan dan Saran

Dapat disimpulkan bahwa semua kebijakan subsidi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kelebihan pendekatan subsidi harga adalah kontrol dan biaya yang murah, maka ia akan membawa konsekuensi berupa subsidi yang tidak tepat sasaran. Sedangkan secara teoretis lebih baik menuntut adanya kehandalan data yang implikasinya adalah biaya teknologi yang tinggi.

Pemerintah harusnya mulai meninggalkan pendekatan kebijakan harga apabila ia telah memiliki database yang baik. Lagi pula, Dari pengalaman pelaksanaan BLT, tampaknya sudah sangat mendesak bagi pemerintah melakukan sensus ekonomi dan sosial terhadap seluruh rakyat Indonesia. Hasil sensus tersebut akan sangat bermanfaat menjadi landasan pertimbangan program-program jaring pengaman sosial di masa mendatang. Akurasi data dan distribusi yang tepat sasaran merupakan unsur vital dalam implementasi suatu kebijakan subsidi oleh pemerintah yang akuntabel. Seandainya Pemerintah berniat melanjutkan program BLT, langkah-langkah yang lebih efisien, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan perlu segera dirumuskan.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan, antara lain, mengumumkan secara jelas dan lugas kriteria “rumah tangga miskin” penerima BLT; mengumumkan kapan dan bagaimana pendataan akan dilakukan. Langkah berikutnya, mengumumkan nama calon penerima BLT dalam daftar yang dipasang di setiap kantor kelurahan dan RT/RW, sebagaimana dilakukan untuk daftar calon pemilih dalam pemilu. Kemudian publik diberi kesempatan mengoreksi. Setelah itu, pemerintah mengumumkan kembali daftar calon tetap penerima BLT. Dana BLT ditransfer langsung ke rekening penerima setiap bulan, tidak dibayarkan sekaligus untuk beberapa bulan atau bahkan setahun.

Terlepas dari pembicaraan masalah subsidi dengan pendekatan BLT-nya, sebenarnya ada hal yang lebih esensial untuk dilakukan pemerintah dalam tataran yang lebih luas, yaitu kesejahteraan ekonomi. Idealnya memang bentuk bantuan pemerintah haruslah memikirkan hal yang berguna dalam jangka panjang. Maksudnya adalah bahwa subsidi yang dilakukan juga harus menyentuh aspek investasi sumber daya manusia yang berkualitas ke depan. Pendidikan, pelatihan, dan perbaikan gizi adalah beberapa contoh kasus-kasus yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Bagaimanapun pemerintah tidak hanya memikirkan hal-hal yang bersifat jangka pendek.

Referensi

Anonim. “Menggugat Implementasi Subsidi Langsung Tunai”. Suarapublik. Oktober 2005

Dartanto, Teguh. “Mengkritik Kebijakan ‘Cash Transfer’”. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat-FEUI.

Prilaku Produsen dan Struktur Pasar

April 15, 2010

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan ridhonya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah softskill.

Dalam makalah ini, penulis menyadari bahwa hasil yang dicapai masih jauh dari sempurna, terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penyajian materi maupun tata bahasa penulisan. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun dalam perbaikan serta koreksi bagi penulis.

Akhir kata penulis persembahkan makalah ini  agar dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Jakarta,  April 2010

DAFTAR ISI

Kata pengantar

BAB 5 Perilaku Produsen

  1. Produsen dan Fungsi Produksi

1.1     Produsen

1.2     Fungsi Produsen

  1. Produksi Optimal

Lembar Jawab Evaluasi

BAB 6&7 Ongkos dan Penerimaan

  1. Macam-macam Ongkos

2.  Kurva Ongkos

3.  Penerimaan (Revenue)

  1. Keuntungan Maximum
  • Pendekatan Total
  • Pendekatan Marginal
  • Pendekatan Rata-Rata

Lembar Jawab Evaluasi

BAB 8&9 Struktur Pasar

  1. Pasar Persaingan Sempurna
  2. Pasar Monopoli
  3. Pasar Monopolistis
  4. Pasar Oligopoli

Lembar Jawab Evaluasi

Daftar Pustaka

BAB 5  Perilaku Produsen

1. Produsen dan Fungsi Produksi

1.1 Produsen

Kebutuhan konsumen terhadap barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup perlu proses, karena barang tersebut harus diadakan proses pembuatannya yang dilakukan di perusahaan atau pabrik-pabrik yang memerlukan berbagai faktor-faktor, misalnya modal, tenaga kerja, alam dan juga teknologi yang akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan produsen.

Jadi jumlah produksi Quantity (Q) diperngaruhi oleh besarnya modal Kapital (K). kemampuan tenaga kerja Labour (L) kondisi alam Resousces (R) yaitu letak tempat yag strategis serta dipengaruhi oleh Technology (T) yang digerakan dalam proses produksi dan keahlian maka hal ini merupakan persamaan fungsi produksi yang secara matematis sebagai berikut:

Q = F (K, L, R, T)

Kegiatan dalam pembuatan /proses terjadinya barang atau jasa merupakan kegiatan produksi yang bersifat menambah manfaat suatu benda atau jasa. Dalam kegiatan sehari-hari produsen untuk memproduksi barang/jasa selalu memperhitungkan kepentingan produsen dan juga konsumennya. Karena pada dasarnya produsen berorientasi pada bagaimana untuk memperoleh keuntungan tetapi konsumenpun merasa terpenuhi kebutuhan dengan memperoleh kepuasan. Jadi dalam upaya mencapai tujuan tersebut tentu ada criteria yang menjadi patokan dasar dalam memproduksi barang/jasa untuk memperoleh tujuan. Tentu ada langkah-langkah atau sistem dan manajemen yang baik untuk menuju pada barang/jasa yang dapat memuaskan konsumen dan ada perhitungan-perhitungan tertentu untuk memperoleh keuntungan (pasif) bagi produsen, tetapi dalam hal upaya memperoleh profit (keuntungan) kadang-kadang perusahaan tidak berfikir bahwa efeknya merugikan konsumen dan pada akhirnya nanti akan merugikan produsen itu sendiri. Berarti perlu perhitungan dan perhatian yang matang dalam melakukan kegiatan produksi bagi produsen untuk mencapai keberhasilan.

1.2 Fungsi Produsen

Kegiatan produksi menyangkut dua persoalan utama. Persoalan pertama menyangkut input (masukan), yaitu  segala sesuatu yang dimasukkan dalam proses produksi. Misalnya bahan mentah, modal, dan meisn-mesin. Input tersebut sebelumnya telah kita kenal dengan istilah-istilah faktor-faktor produksi. Persoalan kedua, yaitu menyangkut output (keluaran) adalah hasil yang dikeluarkan proses produksi. Dengan demikian yang disebut fungsi produksi adalah hubungan fungsional yang terdapat antara input dan output.

PERSAMAAN FUNGSI PRODUKSI

Secara matematis, fungsi produksi merupakan persamaan yang menunjukkan hubungan antara input dan output. Persamaan tersebut dapat ditulis dengan symbol sebagai berikut.

B = F(S,T,M,KT)

Keterangan:

B = jumlah barang/jasa yang dihasilkan (output)

F = fungsi, symbol persamaan fungsional

S = sumber daya alam

T = tenaga kerja

M = modal/sarana

KT = kewirausahaan dan sarana

Dari persamaan tersebut, dapat diketahui bahwa besarnya output yang dihasilkan (B) dalam proses ditentukan oleh kuantitas dan kualitas dari sumber daya alam, tenaga kerja, modal, keahlian pengusaha, (kewirausahaan) dan tingkat teknologi yang digunakan didalam proses produksi sehingga dapat disimpulkan bahwa output adalah fungsi dari input. Artinya, barang yang dihasilkan merupakan akibat dari input dimasukkan. Apabila salah satu faktor produksi sebagai input mengalami perubahan, maka output akan berubah sesuai dengan besar-kecilnya pengaruh faktor produksi yang bersangkutan terhadap outputnya.

2. Produksi Optimal

Seiring dengan semakin banyaknya penduduk dan majunya peradaban dan kebudayaan manusiapun semakin maju. Demikian pula kebutuhan, cara hidup, dan teknologi. Selain itu, terjadinya globalisasi ekonomi mendorong kegiatan produksi ditujukan untuk memenuhi pasar internasional sehingga dituntut untuk menciptakan barang yang berkualitas supaya mampu bersaing.

Dengan memproduksi barang dan jasa akan terbuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan. Pendapatan yang meningkat mendorong pertumbuhan ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan kemakmuran.

Oleh karena untuk mendapatkan produksi yang optimal adalah

  1. memperbanyak jumlah barang/jasa
  2. menghasilkan barang/jasa yang berkualitas tinggi.
  3. Memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan serta perkembangan teknologi.
  4. Mengganti barang yang rusak (aus) atau habis.
  5. Memenuhi pasar dalam negeri untuk kebutuhan perusahaan dan rumah tangga
  6. Memenuhi pasar internasional
  7. Mendapatkan keuntungan
  8. Meningkatkan kemakmuran

Sesuai dengan batasan produksi barang dan jasa yang dihasilkan adalah hasil suatu kegiatan atau usaha manusi. Untuk menghasilkan produk tersebut dibutuhkan suatu proses tertentu yang disebut proses produksi.

Soal Latihan…

1.   Tujuan  Konsumsi adalah….

a.  Memanfaatkan hasil produksi

b.  Mengurangi pengangguran

c.  Menghabiskan barang dan jasa

d. Memenuhi kebutuhan hidup

2.   Yang termasuk kegiatan produksi adalah…

a.   Petani memupuk tanaman

b. Peternak sapi memerah susu

c.   Pengrajin garabah menjajakan tanaman

d.   Pelukis mengadakan pameran hasik karyanya

3.   Tujuan produksi antara lain untuk:

1.   menghasilkan barang-barang yang berkualitas tinggi

2.   mencari keuntungan yang sebesar-besarnya

3.   memenuhi pasar dalam negeri dan luar negeri

4.   untuk menyaingi perusahaan yang memproduksi barang yang sama

Pernyataan yang benar adalah…

  1. 1,2,3

b 1,2,3

c.   1,2,3,4

d.   1,3

4.   Yang dimaksud fungsi produksi adalah…

a.   hubungan antara jumlah input yang diperlukan dan jumlah output yang dihasilkan

b.   hubungan hasil produksi yg dapat menentukan tercapainya pendapatan

c.   suatu wadah untuk menghasilkan baranjg atau jasa dalam hal memnuhi kebutuhan

d.   setiap tindakan untuk mengubah sesuatu benda dupaya dapat memenuhi kebutuha

5.   Pola konsumsi suatu keluarga dalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti berikut ini, kecuali…

a.   besar kecilnya tingkat tabungan yang diinginkan

b.   besar kecilnya tingkat penghasilan yang diperoleh

c.   besar kecilnya jumlah anggota kerja

d lingkungan tempat tinggal dimana keluarga itu berbeda

6.   Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang sifatnya berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, kecuali…

a.   selera konsumen

b.   intensitas kebutuhan

c.   pendapatan seseorang

d. ada tidaknya barang subsitusi

7.   Orang memberikan nilai kepada suatu  benda karena benda itu dapat…

a.   dipakai dan dapat dijual

b. dikonsumsi dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan

c.   dipakai dan dapat diuangkan

d.   dipakai dan dapat dijual

8.   Keberhasilan produksi akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan sifat-sifat kekayaan alam, diantaranya adalah…

a.   kesanggupan kekayaan alam terbatas

b. banyaknya barang/jasa yang habis dikonsumsi oleh manusia

c.   kebudayan semakin maju

d.   Penduduk selalu berkurang

9.   Urutan kegiatan produksi suatu barang dengan mengolah bahan baku atau bahan mentah  menjadi barang jadi disebut…

a.   produksi industri

b. proses produksi

c.   faktor produksi

d.   faktor industrie

10. Berikut ini merupakan yang termasuk dalam pengertian produksi keculi…

a.   Ibu yang sedang memasak di dapur

b.   pedagang buah-buahan yang sedang memborong dagangan

c.   pengemudi yang sedang mengangkut penumpang

d.   editor yang sedang menyunting naskah

JAWABAN…

1.   d

2.   b

3.   b

4.   a

5.   d

6.   d

7.   b

8.   b

9.   b

10. a

BAB 6&7 Ongkos dan Penerimaan

Tindakan pertama bagi seorang pengusaha dalam mendirikan suatu perusahaan adalah menentukan/memilih bentuk organisasinya, apakah berbentuk perusahaan perorangan, persekutuan atau kooperatif; selanjutnya menentukan tujuan pokok organisasi, agar dapat memperoleh keuntungan, baru kemudian melihat kepada bentuk pasar.

Dan untuk membuat keputusan perusahaan yang benar, maka pengusaha harus melihat kepada total penerimaan dan ongkos, jika keliru dalam melakukan penafsiran kedua hal tersebut, maka perusahaan akan membuat keputusan yang dapat merugikan.

Didalam pemakaian faktor produksi untuk memproduksi suatu jenis barang sangat tergantung kepada produktivitas, harga dan waktu yang tersedia bagi perusahaan.

Sehubungan dengan waktu yang tersedia bagi suatu perusahaan tersebut untuk menghasilkan suatu output tertentu dapat dibedakan menjadi tiga periode waktu, yaitu:

a)     The Market Period

b)     The Short Run Period

c)     The Long Run Period

Pengertian Ongkos Produksi

Ongkos produksi secara umum dapat dinyatakan yaitu segala biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Disamping pengertian umum tersebut, ada 2 macam pengertian ongkos, yaitu :

1)     Economic Cost, yaitu ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua faktor produksi untuk menghasilkan output tertentu;

2)     Accounting Cost, yaitu ongkos yang pengertiannya hampir sama dengan economic cost, tetapi ongkos disini dinyatakan secara tegas dalam pembukuan, sehingga ada istilah

(a)    Explicit cost, yaitu ongkos-ongkos yang tercatat atau terlihat jelas dalam pembukuan.

(b)   Implicit cost, yaitu ongkos produksi yang tidak terlihat dalam pembukuan.

Ditinjau dari sudut waktu, ongkos dapat dibedakan menjadi :

  1. Ongkos Jangka Pendek.
  2. Ongkos Jangka Panjang.

Jenis-jenis Ongkos Produksi

Ongkos produksi dapat dibagi ke dalam 5 macam :

1)     Biaya Tetap (Fixed Cost : FC) yaitu, merupakan balas jasa dari pada pemakaian faktor produksi tetap (fixed factor), yaitu biaya yang dikeluarkan tehadap penggunaan faktor produksi yang tetap dimana besar kecilnya biaya ini tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output yang dihasilkan.

2)     Biaya tidak tetap (Variabel cost : VC), yaitu merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai balas jasa atas pemakaian variabel faktor, yang besar kecilnya dipengaruhi langsung oleh besar kecilnya output.

3)     Biaya Total (Total cost : TC), yaitu merupakan jumlah keseluruhan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.

4)     Biaya Rata-rata (Avarage Cost : AC), yaitu merupakan ongkos persatu satuan output; baik untuk biaya rata-rata tetap (avarage fixed cost) dan biaya rata-rata variabel (avarage variable cost) dan rata-rata total (avarage total cost), diperoleh dengan jalan membagi biaya Total dengan jumlah output yang dihasilkan.

5)     Biaya Marginal (Marginal cost : MC), yaitu merupakan biaya tambahan yang diakibatkan dari penambahan satu-satuan unit output.

6)     Biaya Tetap Rata-Rata (Avarage fixed cost : AFC), biaya hasil bagi biaya tetap dengan jumlah yang dihasilkan.

7)     Biaya Variabel Rata-Rata (Avarage Variable cost : AVC), diperoleh dengan jalan membagi biaya variabel dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Ongkos Jangka Panjang

Ciri dasar daripada jangka waktu panjang (Long Run) adalah dimana pengusaha tidak memiliki ongkos tetap, semua ongkos adalah merupakan variabel cost/berubah atau tidak tetap, karena semua faktor produksi bersifat variabel faktor tidak ada yang bersifat fixed factor dalam jangka waktu panjang.

The long run avarage cost curve (LRAC) adalah suatu kurva yang memperlihatkan ongkos rata-rata minimum dari masing-masing tingkat output.

Pengertian Penerimaan

Didalam memproduksi suatu barang, ada dua hal yang menjadi fokus utama dari seorang pengusaha dalam rangka mendapatkan keuntungan yang maksimum, yaitu ongkos (cost) dan penerimaan (Revenue).

Ongkos sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka yang dimaksud dengan penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari penjualan hasil produksinya. Hasil total penerimaan dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah satuan barang yang dijual dengan harga barang yang bersangkutan atau
TR = Q x P

Jenis-jenis Penerimaan

1. Total penerimaan (Total revenue : TR), yaitu total penerimaan dari hasil penjualan. Pada pasar persaingan sempurna, TR merupakan garis lurus dari titik origin, karena harga yang terjadi dipasar bagi mereka merupakan suatu yang datum (tidak bisa dipengaruhi), maka penerimaan mereka naik sebanding (Proporsional) dengan jumlah barang yang dijual. Pada pasar persaingan tidak sempurna, TR merupakan garis melengkung dari titik origin, karena masing perusahaan dapat menentukan sendiri harga barang yang dijualnya,

dimana mula-mula TR naik sangat cepat, (akibat pengaruh monopoli) kemudian pada titik tertentu mulai menurun (akibat pengaruh persaingan dan substansi).

2. Penerimaan rata-rata (Avarage Total revenue: AR), yaitu rata-rata penerimaan dari per kesatuan produk yang dijual atau yang dihasilkan, yang diperoleh dengan jalan membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.

3. Penerimaan Marginal (Marginal Revenue : MR), yaitu penambahan penerimaan atas TR sebagai akibat penambahan satu unit output. Dalam pasar persaingan sempurna MR ini adalah konstan dan sama dengan harga (P), dan berimpit dengan kurva AR atau kurva permintaan, bentuk kurvanya horizontal. Dalam pasar persaingan tidak sempurna MR, menurun dari kiri atas kekanan bawah dan nilainya dapat berupa :

  1. Positif;
  2. Sama dengan nol;
  3. Negatif.

Ongkos Jangka Panjang

Ciri dasar daripada jangka waktu panjang (Long Run) adalah dimana pengusaha tidak memiliki ongkos tetap, semua ongkos adalah merupakan variabel cost/berubah atau tidak tetap, karena semua faktor produksi bersifat variabel faktor tidak ada yang bersifat fixed factor dalam jangka waktu panjang. The long run avarage cost curve (LRAC) adalah suatu kurva yang memperlihatkan ongkos rata-rata minimum dari masing-masing tingkat output.

Soal Latihan

1. Tindakan pertama bagi seorang pengusaha dalam mendirikan suatu perusahaan adalah

  1. Menentukan bentuk organisasinya, apakah perusahaa, perorangan, persekutuan atau kooperatif.
  2. Mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya utnuk membuka suatu usaha.
  3. Menentukan orang-orang yang akan bergabung didalamnya.
  4. Menentukan jenis barang produksinya.

2. Sedangkan untuk membuat keputusan perusahaan yang benar, maka pengusaha harus melihat kepada :

  1. Hasil produksi saja
  2. Total penerimaan dan ongkos
  3. Total ongkos saja.
  4. Target yang dicapai saja.

3. Didalam pemakaian factor produksi untuk memproduksi suatu jenis barang sangat tergantung kepada :

  1. Harga dan waktu
  2. Harga
  3. Produktivitas, harga dan waktu
  4. Produktivitas

4. Sehubungan dengan waktu yang tersedia bagi suatu perusahaan untuk menhasilkan suatu output tertentu dapat dibedakan menjadi tiga periode waktu yaitu :

  1. Market period, Short period, dan Longtime
  2. Longtime period, Shorttime period, danmarket period
  3. Longtimeperiod dan short period.
  4. Market period,Short run period, dan long run period

5. Pengertian ongkos produksi secara umum dapat dinyatakan sebagai :

  1. Segala biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.
  2. Segala biaya yang dimiliki oleh pengusaha.
  3. Segala biaya yang dikeluarkan untuk menggaji karyawan suatu perusahaan.
  4. Segala keuntungan dari hasil proses produksi.

6. Berikut adalah pengertian dari Economic Cost kecuali :

  1. Ongkos yang dikeluarkan untuk proses pembukuan
  2. Ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua factor produksi untuk menghasilkan output tertentu.
  3. Ongkos-ongkos yang tercatat atau terlihat jelas dalam pembukuan.
  4. Ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji para karyan perusahan.

7. Accounting Cost yaitu :

  1. Ongkos-ongkos yang tercatat atau terlihat jelas dalam pembukuan
  2. Ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji para karyan perusahan.
  3. Ongkos yang dikeluarkan untuk proses pembukuan
  4. Ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua factor produksi untuk menghasilkan output tertentu.

8. Explict Cost yaitu :

  1. Ongkos yang dikeluarkan untuk proses pembukuan
  2. Ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua factor produksi untuk menghasilkan output tertentu.
  3. Ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji para karyan perusahan.
  1. Ongkos-ongkos yang tercatat atau terlihat jelas dalam pembukuan.

9. Implict Cost yaitu :

  1. Ongkos produksi yang tidak terlihat dalam pembukuan.
  2. Ongkos yang dikeluarkan untuk menggaji para karyan perusahan.
  3. Ongkos yang dikeluarkan untuk proses pembukuan
  4. Ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua factor produksi untuk menghasilkan output tertentu

10. Berikut adalah cirri-ciri ongkos jangka panjang :

  1. Ongkos yang telah direncanakan oleh seorang pengusaha untuk janka waktu yang panjang.
  2. Dimana Pengusaha tidak memiliki ongkos tetap.
  3. Dimana pngusaha memiliki ongkos tetap
  4. Ongkos rata – rata minimum dari masing – masing tingkat output.

Jawaban..

  1. a
  2. b
  3. c
  4. d
  5. a
  6. b
  7. c
  8. d
  9. a

10.  b

BAB 8&9 Struktur Pasar

1. Pasar Persaingan Sempurna

Pasar persaingan sempurna dalah suatu pasar yang ditandai oleh tidak adanya persaingan yang bersifat pribadi (rivalty) diantara perusahaan-perusahaan (penjual/produsen) yang ada di pasar tersebut. Dalam pasar persaingan sempurna (perfect competition) yang sering disebut juga dengan pasar persaingan murni (pure competition) adalah pasar dimana pihak penjual (produsen) dan pihak pembeli (konsumen) sudah saling mengetahui keadaan pasar. Kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran dari masing-masing pihak tidak dapat mempengaruhi keadaan pasar. Pihak penjual (produsen) harus menjual barangnya sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Pasar persaingan sempurna akan muncul pada keadaan dimana terdapat banyak penjual (produsen) dan masing-masing memproduksi/menjual barang yang identik atau homogen sehingga mereka sangat kecil kemungkinannya untuk dapat mempengaruhi situasi pasar. Tindakan seorang penjual (produsen), menaikkan harga ataupun menurunkan harga tidak akan mempengaruhi keadaan pasar. Bagi penjual (produsen) yang menurunkan harga, tidak akan mampu memenuhi semua permintaan dan sebaliknya yang menaikkan harga, akan mengalami kerugian karena ditinggalkan pembelinya.

Kurva permintaan yang dihadapi oleh masing-masing penjual (produsen) dalam pasar persaingan sempurna adalah berbentuk horizontal swejajar dengan sumbu keluaran (Q). Hal ini juga berarti penjual (produsen) menghadapi kurva permintaan yang elastis sempurna, dengan demikian berapa pun kuantitas barang yang ditawarkan penjual (produsen) akan terjual semua dengan tingkat harga yang berlaku di pasar. Kurva permintaan tersebut juga merupakan kurva penerimaan rata-rata (average revenues curve) dan juga kurva penerimaan batas (marginal revenue) bagi penjual (produsen).

2. Pasar Monopoli

Merupakan pasar yang dikuasai oleh satu penjual (produsen), dalam pasar monopoli barang yang dijual bersifat lain dari pada yang lain (unique product), tidak ada barang subsitusi terhadap barang yang dijual oleh penjual (produsen) tunggal tersebut, dengan demikian penjual (produsen) dapat menentukan harga pasar sehingga dapat memaksimalkan keuntungan yang akan diperolehnya. Pada pasar monopoli ada hambatan bagi penjual (produsen) lain untuk masuk dalam pasar sebagai pesaing.

Penyebab terjadinya monopoli antaralain :

  • Menguasai bahan mentah, misalnya daerah Tulung Agung Jawa Timur dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai penghasil Marmer berkualitas tinggi.
  • Adanya undang-undang yang mengaturnya, misalnya PLN (Perusahaan Listrik Negara) diberi hak monopoli oleh Negara untuk memproduksi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi rakyat banyak, sebagaimana diatur dalam Undang-undang 1945.
  • Produsen memiliki pengetahuan yang khusus (exclusive knowledge) tentang produksi atau memiliki salah satu (beberapa) sumberdaya yang penting dan kemudian ia merahasiakannya.
  • Perusahaan memperoleh hak paten untuk barang yang dihasilkannya.
  • Ukuran pasar yang begitu kecil untuk dilayani lebih dari satu perusahaan yang mengoperasikannya skala perusahaan secara optimum, seperti dalam bidang transportasi (kereta api)
  • Kebijaksanaan limitasi harga (limit pricing policy) produsen menetapkan harga sampai satu tingkat terendah dengan tujuan agar perusahaan-perusahaan baru tidak dapat masuk ke pasar. Kebijaksanaan limitasi harga (limit pricing policy) pada umumnya akan didukung dengan promosi penjualan secara besar-besaran dan kebijaksanaan deferensiasi produk (product differentiation)

3. Pasar Monopolistis

Pasar monopolistis adalah pasar yang relatif baru bila dibandingkan dengan pasar monopoli dan pasar oligopoli. Pasar persaingan monopolistis baru dikembangkan oleh para ahli ekonomi pada tahun 1930 oleh E. Chamberlin dan Joan Robinson. Pasar persaingan monopolistis merupakan pasar yang berada di antara pasar persaingan sempurna dan pasar monopoli. Pasar persaingan monopolistis mempunyai ciri-ciri yang terdapat pada pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan monopoli. Dikatakan mirip dengan pasar persaingan sempurna, karena ada kebebasan bagi perusahaan sebagai penjual (produsen) untuk masuk pasar dan keluar lagi, akan tetapi barang yang diperjualbelikan dibedakan (differentiated) melalui berbagai macam program promosi penjualan. Dengan demikian pasar persaingan monopolistis adalah suatu keadaan dimana terdapat banyak penjual (produsen) yang berkaitan erat tetapi bukan penjual/penghasil barang yang sama. Barang yang diperjual-belikan pada pasar persaingan monopolistis hanya satu jenis saja, akan tetapi mempunyai perbedaan-perbadaan dalam hal bentuk, kualitas atau ukurannya. Pasar monopolistis banyak dijumpai pada sector jasa, misalnya salon, butik dan lain sebagainya.

Ciri-ciri Pasar Persaingan Monopolistis

  • Terdapat banyak penjual/produsen di pasar.
  • Barang yang diperjualbelikan mnerupakan differentiated product.
  • Para penjual memiliki kekuatan monopolis atas barang produksinya sendiri. Oleh karena itu, harus memperhitungkan persaingan dengan barang-barang lain yang sama, tetapi berbeda corak.
  • Untuk memenangkan persaingan setiap penjual/produsen aktif melakukan promosi/iklan.
  • Keluar-masuk pasar relative mudah dibandingkan dengan pasar monooli dan oligopoli.

4. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoly merupakan pasar yang terdiri dari beberapa penjual (produsen). Barang yang diperjualbelikan pada pasar ini dapat bersifat homogen dan dapat juga bersifat diferensiasi. Pada pasar oligopoly pihak penjual (podusen) harus mempertimbangkan akan terjadinya persaingan dalam menetapkan harga jual dan strategi pemasaran.

Ciri-ciri Pasar Oligopoli

  • Terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai pasar.
  • Barang yang diperjualbelikan dapat homogen dapat pula berbeda corak (differentiated product)
  • Terdapat halangan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk masuk kedalam pasar.
  • Satu di antara para oligopolies merupakan market leader, yaitu penjual yang memiliki pangsa pasar yang terbesar. Ia memiliki kekuatan yang besar untuk menetapkan harga dan para penjual yang lainnya biasanya terpaksa mengikuti harga tersebut. Contoh,pasar air mineral di Indonesia merupakan suatu bentuk pasar oligopoly dan aqua merupakan market leader yang menguasai pangsa pasar 80%.

Macam-macam oligopoly

  • Oligopoly murni yang ditandai beberapa perusahaan menjual produk homogen.
  • Oligopoly dengan pembedaan yang ditandai beberapa perusahaan menjual produk yang dapat dibedakan.

Soal Latihan

1.   Tindakan seorang penjual (produsen), menaikkan harga ataupun menurunkan harga tidak akan mempengaruhi keadaan pasar, hal tersebut terjadi pada…

a.   Pasar persaingan sempurna

b.   pasar monopoli

c.   pasar komoditi

d.   pasar bebas

e.   pasar global

2.   Mengapa penjual (produsen) pada pasar persaingan sempurna menghadapi kurva permintaan yang elastis sempurna? Karena kurva permintaan yang dihadapi oleh masing-masing penjual (produsen) dalam pasar persaingan sempurna adalah berbentuk…

a.   horizontal sejajar dengan sumbu keluaran (Q)

b.   horizontal sejajar dengan sumbu keluran (P)

c.   vertical sejajar dengan sumbu keluaran (P)

d.   vertical sejajar dengan sumbu keluaran (Q)

e.   garis lengkung dari kiri bawah ke kanan atas.

3.   Salah satu pernyataan berikut bukan penyebab terjadinya monopoli, yaitu..

a.   Produsen memiliki pengetahuan yang khusus (exclusive knowledge) tentang produksi

b.   adanya undang-undang yang mengatur tentang tata cara mendirikan perusahaan

c.   ukuran pasar yang begitu kecil untuk dilayani lebih dari satu perusahaan

d.   perusahaan memperoleh hak patent untuk barang yang dihasilkannya

e.   kebijaksanaan limitasi harga ( limit pricing policy)

4.   Bagaimana sifat barang yang diperjuabelikan dalam pasar oligopoly? Bersifat…

a.   umum dan jumlahnya banyak dapat memenuhi semua konsumen

b.   khusus hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu tertentu

c.   terbatas hanya untuk memenuhi konsumen tertentu saja

d.   dapat menggantikan fungsi barang lain yang sejenis

e.   bersifat homogen dan dapat juga bersifat diferensiasi

5.   Hal penting yang harus dipertimbangkan pihak penjual (produsen) dalam pasar oligopoly maupun duopoly adalah..

a.   penjualan dengan cara langsung kepada setiap pembeli (konsumen)

b.   persaingan dalam menetapkan harga jual dan strategi pemasaran.

c.   persaingan dalam membuat desain barang yang diperjualbelikan

d.   pelayanan purna jual kepada setiap pembeli (konsumen)

e.   daya tahan atau kualitas barang yang diperdagangkan

6.   Pasar persaingan monopolistis baru dikembangkan oleh para ahli ekonomi pada tahun 1930 oleh…

a.   E. Chamberlin dan Joan Robinson

b.   Karl Marks dan Joan Robinson

c.   Adam Smith dan E. Chamberlin

d.   Karl Mark dan Adam Smith

e.   E. Chamberlin dan Karl Marks

7.   Barang yang diperjual-belikan pada pasar persaingan monopolistis hanya satu jenis saja, akan tetapi dan mempunyai..

a.   perbedaan-perbedaan dalam hal bentuk, kualitas atau ukurannya

b.   jumlah yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pembeli (konsumen)

c.   kualitas yang mampu bersaing dengan produk Negara lain

d.   manfaat yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

e.   keterbatasan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat

8.   Pada pasar persaingan sempurna tindakan salah satu penjual (produsen) mengurangi kuantitas barang yang ditawarkannya…

a.   tidak akan mempengaruhi jumlah permintaan barang tersebut di pasar

b.   tidak akan mempengaruhi harga barang tersebut di pasar

c.   akan mempengaruhi harga barang tersebut di pasar

d.   akan merugikan pihak penjual (produsen)

e.   akan merugikan pihak pembeli (konsumen)

9.   Pada pasar persaingan sempurna tindakan salah satu pembeli (konsumen), mengurangi kuantitas barang yang dimintanya…

a.   tidak akan mempengaruhi jumlah permintaan barang tersebut di pasar

b.   tidak akan mempengaruhi harga barang tersebut di pasar

c.   akan mempengaruhi harga barang tersebut di pasar

d.   akan merugikan pihak penjual (produsen)

e.   akan merugikan pihak pembeli (konsumen)

10. Bagaimana dengan sikap pemerintah dalam kegiatan pasar pada pasar persaingan sempurna?

a.   ada campour tangan dari pemerintah

b.   tidak ada campur tangan dari pemerintah

c.   adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mengikat

d.   pemerintah dapatsaja berbentuk peraturan-peraturan

e.   pemerintah mempengaruhi keadaan perekonomian ataupun tingkat harga.

JAWABAN

  1. A
  2. A
  3. D
  4. E
  5. B
  6. A
  7. A
  8. A
  9. B

10.  E

Daftar Pustaka

Hera Susanti,Widyanti Soetjipo (1994),Pemandu belajar EKONOMI, Penerbit Erlangga

Drs.Achmad Widodo (2004), Ekonomi SMA kelas X, Penerbit yudhistira

ekonomi

Maret 20, 2010

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan ridhonya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah softskill.

Dalam makalah ini, penulis menyadari bahwa hasil yang dicapai masih jauh dari sempurna, terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penyajian materi maupun tata bahasa penulisan. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun dalam perbaikan serta koreksi bagi penulis.

Akhir kata penulis persembahkan makalah ini  agar dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Jakarta,  Maret 2010

DAFTAR ISI

Kata pengantar

BAB I  Ruang Lingkup Ekonomi

  1. Definisi dan Metodologi Ekonomi
  2. Masalah Pokok Ekonomi dan Pengaruh Mekanisme Harga
  3. Sistem Perekonomian

Lembar Jawab Evaluasi

BAB 2  Penentuan Harga Permintaan dan Penawaran

  1. Pengertian Permintaan

1.Hukum Permintaan

2.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi permintaan

  1. Pengertian Penawaran

1.Hukum Penawaran

2.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran

  1. Penentuan Harga Keseimbangan

Lembar Jawab Evaluasi

BAB 3  Perilaku Konsumen

  1. Pendekatan Perilaku Konsumen
    1. Pendekatan Kardinal
    2. Pendekatan Ordinal
    3. Konsep Elastisitas
      1. Harga
      2. Silang
      3. Pendapatan

Lembar Jawab Evaluasi

1. Ruang Lingkup Ekonomi

A. Definisi dan Metodologi Ilmu Ekonomi

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan. Akibat adanya kelangkaan, kita terpaksa harus memilih, dengan akibat timbulnya biaya kesempatan.

Kata “ekonomi” sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόμος (nomos), atau “peraturan, aturan, hukum,” dan secara garis besar diartikan sebagai “aturan rumah tangga” atau “manajemen rumah tangga.” Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja. Ilmu ekonomi atau ekonomika atau economics adalah ilmu yang mempelajari manajemen rumah tangga tersebut.

Banyak pakar yang membuat definisi ilmu ekonomi. Salah satunya yang disusun oleh Paul A. Samuelson yang berbunyi : Ilmu ekonomi merupakan studi tentang perilaku masyarakat dalam menggunakan sumber daya atau factor produksi yang langka dalam rangka memproduksi berbagai komoditas (barang dan jasa) untuk kemudian menyalurkannya kepada berbagai individu dalam suatu masyarakat.

Dalam definisi tersebut termuat pengertian-pengertian sebagai berikut :

  1. Perilaku Masyarakat. Yang dimaksud perilaku masyarakat disini dapat berupa perilaku individu/rumah tangga, perusahaan, industri, atau Negara.
  2. Sumbar daya / factor produksi. Sebagaimana diketahui sumber daya/factor produksi meliputi alam,manusia, modal, dan kewirausahaan. Sumber-sumber produktif tersebut bersifat langka, bukan barang yang berlimpah ruah sehingga harus digunakan secara cermat dan tepat.
  3. Kegiatan Produksi dan Penyaluran Hasil Produksi. Kegiatan produksi dilakukan untuk menghasilkan barang dan jasa kemudian dapat dikonsumsi.

Dalam ilmu ekonomi terdapat dua macam ilmu ekonomi, yaitu :

  1. Ilmu ekonomi mikro yang mempelajari cara kerja para pelaku ekonomi secara individu dan hubungan antar individu.
  2. Ilmu ekonomi makro yang mempelajari hubungan antar para pelaku ekonomi dalam skala yang lebih besar.

Metodologi Ilmu Ekonomi

Sering disebut sebagai The queen of social sciences, ilmu ekonomi telah mengembangkan serangkaian metode kuantitatif untuk menganalisis fenomena ekonomi. Jan Tinbergen pada masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu pelopor utama ilmu ekonometri, yang mengkombinasikan matematika, statistik, dan teori ekonomi. Kubu lain dari metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi adalah model General equilibrium (keseimbangan umum), yang menggunakan konsep aliran uang dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen yang lain. Dua metode kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua makalah ekonomi sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam analisisnya. Di lain pihak, metode kualitatif juga sama berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan metode kuantitatif dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah.

Kegiatan membuat suatu barang atau jasa yang dibutuhkan dalam kegiatan perekonomian disebut kegiatan produksi, sedangkan pelakunya disebut produsen. Sebaliknya, kegiatan menggunakan atau membeli berbagai barang dan jasa yang telah diproduksi dalam kegiatan perekonomian disebut kegiatan konsumsi, sedangkan pelakunya disebut konsumen.

Pertemuan antara penjual dan pembali disebut pasar. Pasar ada yang bersifat konkrit, ada pula yang bersifat abstrak.

  • Pasar konkrit : dapat dilakukan disuatu tempat tertentu, seperti di pasar, di toko atau dilokasi tertentu.
  • Pasar abstrak : penjual dan pembelinya tidak langsung bertemu.

Kegiatan menyalurkan barang dan jasa yang diproduksi dari produsen ke konsumen disebut kegiatan distribusi.

Semakin baik kegiatan distribusinya, semakin banyak barang dan jasa yang diproduksi dapat disalurkan ke konsumen yang membutuhkannya.

Selain menyangkut barang dan jasa hasil produksi, distribusi juga menyangkut factor produksi. Distribusi factor produksi diperlukan untuk alokasi sumber daya dalam berbagai kegiatan produksi. Sumber daya yang ada sangat terbatas dan tidak mungkin cukup memenuhi kebutuhan konsumen.

Pelaku Ekonomi

Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Untuk lingkup yang lebih luas, masyarakat di luar negeri juga dapat dianggap sebagai pelaku dalam kegiatan ekonomi.

Para pelaku kegiatan ekonomi pada dasarnya dapat dibagi kedalam tiga kelompok penting, yaitu :

  1. Rumah Tangga. Rumah tangga adalah seluruh individu yang tinggal didalam satu atap dan membuat keputusan secara bersama.

Anggota rumah tangga ini sering dikatakan sebagai konsumen karna mereka adalah pembeli dan pengkonsumsi utama dari barang dan jasa yang diproduksi

  1. Perusahaan. Perusahaan adalah pihak yang menggunakan berbagai factor produksi untuk memproduksi berbagai barang dan jasa.

Barang dan jasa  ini pada gilirannya akan dijual ke perusahaan lain, rumah tangga, dan pemerintah. Keadaan inilah yang menyebabkan perusahaan juga disebut sebagai produsen.

  1. Pemerintah. Pihak pemerintah dalm ilmu ekonomi mencakup seluruh badan-badan yang mewakili pemerintah, termasuk pemerintah daerah, departemen-depertemen, BUMN, bank sentral, dan berbagai badan di bawah wewenangnya.

Yang ada dalam kehidupan ekonomi adalah setiap orang bisa lebih baik bila memusatkan segenap tenaga dan perhatiannya ke bidang khusus yang terbatas, bukannya mengurus aneka bidang secara serentak.

Berikut ini adalah keuntungan dan kerugian pembagian kerja.

Keuntungan pembagian kerja :

  1. Produktifitas meningkat
  2. Standar kehidupan meningkat
  3. Pilihan produk bagi konsumen semakin banyak.

Kerugian pembagian kerja :

  1. Kebosanan meningkat
  2. Tidak ada variasi produk yang dihasilkan
  3. Pekerja sangat tergantung pada pekerja lain.

B. Masalah Pokok Ekonomi dan Pengaruh Mekanisme Harga

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup setiap manusia senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan setiap orang berbeda-beda sesuai dengan keadaan alam, tradisi dan lingkungan sosialnya. Kebutuhan manusia berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban, semakin maju peradaban manusia semakin besar dan komplek pula kebutuhannya.

Akibatnya, inti permasalahan ekonomi terutama berorientasi pada bagaimana pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas. Sasaran akhirnya mencapai kemakmuran masyarakat harus menghadapi masalah pokok ekonomi :

1. What (Barang apa yang akan diproduksi)

Menyangkut pilihan antara berbagai barang dan jasa yang akan diproduksi dengan kata lain pilihan-pilihan para konsumen merupakan factor penting dalam menentukan jenis kegiatan memproduksi yang harus dijalankan serta banyaknya barang yang harus diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan.

2. How (Bagaimana cara memproduksi)

Hal ini menyangkut proses produksi, teknologi apa dan bagaimana factor-faktor produksi akan digunakan sehingga tercipta efisiensi yang pada akhirnya akan menghasilkan keuntungan yang maksimal.

3. For Whom (Untuk siapa barang diproduksi)

Persoalan ini menyangkut masalah untuk siapa barang dan jasa diproduksi serta kaitannya dengan masalah distribusi pendapatan masyarakatnya.

C. Sistem Perekonomian

Masalah ekonomi yang meliputi kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi yang terdapat disuatu Negara berbeda dengan dinegara lain. Kegiatan perekonomian dapat tercipta  dengan selaras dan serasi apabila kegiatan tersebut teratur.

Oleh karena itu, diperlukan sistem tertentu untuk menjalankan perekonomian agar kepentingan banyak orang dapat terpenuhi. Sistem tersebut dinamakan Sistem Perekonomian.

Secara garis besar sistem ekonomi terbagi menjadi 4 bentuk sebagai berikut;

1. Sistem Ekonomi Tradisional

Masyarakat yang menjalankan sistem tradisional adalah masyarakat yang belum ada pembagian kerja, cara mendapatkan barang dengan “barter”, belum mengenal uang sebagai alat bayar, produksi dan distribusi terbentuk karena tradisi dan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri/masyarakat.

Pada masyarakat yang menganut sistem tradisional masalah apa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi berjalan dengan sendirinya dan berlangsung secara terus menerus.

2. Sistem Ekonomi Sosialisis/Terpusat

Perekonomian dimana seluruh kebijaksanaan perekonomian ditentukan oleh pemerintah sedangkan masyarakat hanya menjalankan peraturan yang ditentukan. Jadi persoalan-persoalan ekonomi hanya diselesaikan oleh pemerintah. Sistem ekonomi terpusat ini dilaksanakan dinegara-negara sosialis dan komunis serta Republik Rakyat Cina. Tokoh Ekonomi yang mempeloporinya adalah Karl Marx.

3. Sistem Ekonomi Liberal/bebas

Sistem Ekonomi Liberal adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mengadakan  kegiatan ekonomi. Dalam ekonomi liberal harga pasar dan laba sangat menentukan jawaban terhadap pertanyaan apa, bagaimana dan untuk siapa barang diproduksi. Dengan demikian jawaban permasalahan ekonomi seluruhnya terdapat dipasar.

4. Sistem Ekonomi Campuran

Sistem ekonomi campuran merupakan perpaduan antara sistem ekonomi sosialis dengan sistem ekonomi liberal, yang mengambil garis tengah antara kebebasan dan pengendalian. Garis tengah ini tentunya disesuaikan dengan dimana perpaduan itu terjadi, sehingga peran situasi dan lingkungan sangat memberi warna pada sistem campuran itu.

Soal Pilihan Ganda

1.   Akar permasalahan yang dihadapi manusia adalah….

A.  Adanya kelangkaan alat pemenuhan kebutuhan manusia.

B.  Kebutuhan manusia terbatas dan alat pemenuhan kebutuhan manusia juga terbatas.

C.  Tersedianya barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

D. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas.

2.   Masalah ekonomi yang dihadapi oleh semua masyarakat atau Negara adalah…

A. what, how, for whom

B.  what, who, for whom

C.  what, how, where

D.  what, where, who

3.   Negara yang menganut sistem liberal adalah….

A.  Indonesia, Malaysia, Jepang

B.  Jepang, Singapura, Vietnam

C.  Jepang, Singapura, Brunei Darussalam

D. Amerika, Inggris, Perancis

4.   Inti masalah ekonomi adalah cara…

A.  Meningkatkan pendapatan nasional

B.  Meningkatkan kesejahteraan rakyat

C.  Memanfaatkan sumber daya alam

D.  Memenuhi kebutuhan

5.   Negara yang melaksanakan sistem ekonomi liberal adalah Negara….

A. Maju

B.  Berkembang

C.  Komunis

D.  Sosialis

6.   Kebaikan sistem ekonomi tradisional adalah…

A. Setiap orang termotivasi menjadi produsen

B.  Dapat meningkatkan efisiensi kualitas barang yang diproduksi

C.  Terdorong untuk mencapai kemakmuran

D.  Relatif tidak ada jurang pemisah antara orang kaya dan miskin

7.   Bagaimana permasalahan ekonomi dipecahkan pada Negara yang menganut sistem ekonomi liberal…

A.  Diselesaikan oleh pemerintah

B.  Diselesaikan bersama oleh pemerintah dan swasta

C. Diselesaikan oleh pasar

D.  Selesai dengan sendirinya

8.   Tokoh yang mempelopori sistem ekonomi terpusat adalah….

A.  Adam smith

B. Karl Marx

C.  David Ricardo

D.  Malthus

9.   Pengertian sistem ekonomi adalah…

A. Cara yang dilakukan suatu Negara dalam rangka memenuhi kebutuhan yang terbatas

B.  Cara yang baik dan terarah yang dilaksanakan oleh suatu masyarakat untuk mencapai tujuan

C.  Cara mengatur kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan yang terbatas

D.  Keseluruhan lembaga ekonomi yang digunakan suatu Negara dalam rangka pencapaian tujuan

10. Dibawah ini adalah alasan-alasan yang menyebabkan kebutuhan manusia tidak terbatas, kecuali….

A.  Kemajuan teknologi

B.  Sifat alami manusia

C.  Alam dan lingkungan

D. Sifat asli manusia yang merasa puas

2. Penentuan Harga Permintaan dan Penawaran

A. Permintaan

1. Pengertian Permintaan (Demand).

Permintaan adalah sejumlah barang atau jasa yang diinginkan untuk dibeli atau dimiliki pada berbagai tingkat harga, pada waktu dan tempat tertentu.

Macam-macam Permintaan

a.   Permintaan Potensial (potential demand) adalah permintaan yang disertai kemampuan membeli, tetapi pembelian belum dilaksanakan karena alasan tertentu yang lebih penting.

b.   Permintaan Efektif (effective demand) adalah permintaan yang disertai dengan kemampuan membeli dan pembelian dilakukan.

c.   Permintaan Absolut (absolute demand) adalah jumlah  seluruh permintaan masyarakat, baik permintaan potensial maupun permintaan aktif.

2. Hukum Permintaan.

Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang hubungan antara harga dengan jumlah barang atau jasa yang diminta(permintaan). Hukum permintaan menyatakan bahwa antara harga dengan jumlah barang atau jasa yang diminta mempunyai hubungan negative atau terbalik.

Bunyi hukum permintaan sebagai berikut “Apabila harga barang/jasa mengalami kenaikan maka jumlah barang/jasa yang diminta mengalami penurunan, sebaliknya apabila harga barang/jasa mengalami penurunan maka jumlah barang/jasa yang diminta mengalami kenaikan.”

Hukum permintaan akan berlaku apabila kondisi ekonomi dalam keadaan “ceteris paribus” artinya tidak ada perubahan pada factor-faktor yang mempengaruhi permintaan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan

1.   Adanya perubahan harga pada barang/jasa yang bersangkutan.

2.   Adanya perubahan pendapatan masyarakat

3.   Tingkat intensitas kebutuhan.

4.   Perubahan jumlah penduduk.

5.   Terjadinya perubahan selera konsumen.

6.   Ekspektasi/prediksi harga barang/jasa pada waktu yang akan datang.

7.   Adanya baranhg-barang subtitusi.

B. Penawaran

1. Pengertian Penawaran

Penawaran (Supplay) adalah sejumlah barang atau jasa yang disediakan untuk dijual pada berbagai tingkat harga pada waktu dan tempat tertentu.

2. Hukum Penawaran

Hukum penawaran menjelaskan tentang hubungan antara harga dengan jumlah barang/jasa yang akan ditawarkan. Hukum penawaran menyatakan bahwa antara harga dengan jumlah barang/jasa yang ditawarkan mempunyai hubungan positif atau berbanding lurus.

Bunyi hukum penawaran sebagai berikut. “Apabila harga barang/jasa mengalami kenaikan maka jumlah barang/jasa yang ditawarkan juga akan mengalami kenaikan, sebaliknya apabila harga barang/jasa mengalami penurunan maka jumlah barang/jasa yang ditawarkan juga mengalami penurunan.”

Hukum penawaran akan berlaku apabila kondisi ekonomi dalam keadaan “ceteris paribus” artinya tidak ada perubahan pada factor-faktor yang mempengaruhi penawaran.

Factor-faktor yang mempengaruhi penawaran;

1.   Biaya produksi

2.   Perubahan teknologi

3.   Keuntungan yang diharapkan

4.   Kebutuhan uang tunai

5.   Ekspektasi/prediksi harga pada waktu yang akan datang

6.   Adanya pajak dan subsidi

7.   Perubahan jumlah produsen

8.   Perubahan harga barang/jasa yang bersangkutan

9.   Keadaan cuaca/iklim/bencana dan keadaan geografis.

C. Harga Keseimbangan (Equilibrium Price)

1. Pengertian

Harga Keseimbangan adalah tingkat harga yang terjadi di pasar karena adanya kesepakatan harga antara permintaan dan penawaran.

Soal Pilihan Ganda

1.   Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran;

1.   biaya produksi

2.   kemajuan teknologi

3.   intensitas kebutuhan

4.   pendapatan konsumen

5.   adapt istiadat/tradisi

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan adalah…

a.   1,2 dan 3

b. 1,3 dan 4

c.   2,3 dan 4

d.   2,3 dan 5

2.   Bertambahnya penduduk suatu wilayah akan mengakibatkan permintaan terhadap sembilan bahan pokok…

a.   Seimbang

b.   Menurun

c. Meningkat

d.   Berubah

3.   Jika harga turun maka jumlah barang yang diminta bertambah dan hubungan harga dengan jumlah barang yang diminta berbanding terbalik, hal tersebut hukum…

a.   Gossen I

b. Permintaan

c.   Penawaran

d.   Permintaan dan penawaran

4.   Permintaan adalah…

a.   Jumlah barang yang digunakan perusahaan dalam waktu tertentu.

b.   Jumlah barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rumah tangga.

c.   Jumlah barang yang dijual pada suatu pasar, pada berbagai tingkat harga dan waktu tertentu

d. Jumlah barang/jasa yang ingin dibeli oleh konsumen dalam berbagai tingkat harga, pada waktu tertentu dan tempat tertentu.

5.   Hukum permintaan mengatakan bahwa antara harga dengan jumlah permintaan..

a. Berbanding terbalik

b.   Berhubungan mutlak

c.   Tidak ceteris paribus

d.   sejajar antara keduanya

6.   Hukum permintaan maupun hukum penawaran berlaku apabila kondisi ekonomi dalam keadaan ceteris paribus, artinya…

a.   Harga barang kebutuhan pokok mengalami penurunan harga

b. Semua faktor yang mempengaruhi permintaan tidak mengalami perubahan

c.   Konsumen beralih ke barang subtitusi karena daya belinya rendah

d.   Karena konsumen mengikuti perkembangan mode

7.   Salah satu yang menjadi pertimbangan produsen akan melepas atau menahan hasil produksinya adalah…

a.   Pertimbangan biaya produksi

b. Permintaan dan penawaran

c.   Adanya peraturan pemerintah

d.   adanya motif spekulasi

8.   Faktor yang mempengaruhi penawaran selain harga adalah, kecuali..

a.   Naiknya biaya produksi

b.   Penambahan jumlah produksi

c.   Adanya peraturan pemerintah

d. Kemajuan teknologi

9.   Berikut adalah kebijakan Pemerintah dalam pembentukan harga, kecuali…

a.   Memberikan subsidi

b.   Menetapkan pajak penjualan

c. Menetapkan harga eceran tertinggi

d.   Menetapkan harga terendah

10. Tujuan Pemerintah menetapkan harga minimum/terendah adalah untuk melindungi…

a.   Produsen

b. Konsumen

c.   Masyarakat pedesaan

d.   Petani penggara

3&4. Perilaku Konsumen

A. Perilaku Konsumen

Dalam kehidupan sehari-hari kita memenuhi kebutuhan hidup yang bermacam-macam dengan tingkat kehidupan yang berbeda tentu mempengaruhi terhadap cara kita membeli terhadap berbagai kebutuhan.

Berarti seorang pembeli atau konsumen dalam membeli barang ataupun jasa tergantung dari cara masing-masing konsumen. Dan pada umumnya konsumen membeli barang cenderung pada saat harga barang turun dan mengurangi pembelian pada saat harga naik. Dalam kegiatan ekonomi pembeli, melakukan pembelian sesuai jumlah pendapatan yang merupakan perilaku konsumen.

Perilaku konsumen adalah sikap konsumen dalam memenuhi kebutuhan yang disesuaikan dengan pendapatan. Dan perilaku konsumen ternyata erat kaitannya dengn nilai guru barang ataupun jasa (utility).

Biasanya orang membeli barang jasa karena barang/jasa tersebut mengandung kegunaan. Konsumen percaya bahwa barang/jasa bersangkutan dapat memuaskan kebutuhannya. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II tentang nilai guna barang dan tingkat kepuasan seseorang terhadap berbagai macam kebutuhan hidupnya.

Pendekatan Perilaku Konsumen

Kegiatan mengeluarkan uang untuk membeli barang dan jasa yang diperlukan disebut konsumsi. Konsumsi Agregat adalah konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat yang ada pada suatu Negara/daerah tertentu. Konsumsi dianggap sangat dipengaruhi oleh pendapatan. Jika pendapatan meningkat, maka konsumsi akan meningkat, walaupun tidak secepat peningkatan pendapatan.

Teori perilaku konsumen disebut juga dengan teori nilai guna, pendekatannya yang dapat dibagi menjadi:

a.      PendekatanKardinal

Pendekatan kardinal juga disebut sebagai pendekatan marginal utility. Pendekatan kardinal , asumsi dasarnya:
1. Kepuasan konsumsi dapat diukur dengan satuan ukur, util
2. Makin banyak barang dikonsumsi makin besar kepuasan
3. Terjadi hukum The law of deminishing Marginal Utility pada tambahan           kepuasan setiap satu satuan. Setiap tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap unit tambahan konsumsi semakin kecil. ( Mula – mula kepuasan akan naik sampai dengan titik tertentu atau saturation point tambahan kepuasan akan semakin turun ). Hukum ini menyebabkan terjadinya Downward sloping MU curva. Tingkat kepuasan yang semakin menurun ini dikenal dengan hukum Gossen.
4. Tambahan kepuasan untuk tambahan konsumsi 1 unit barang bisa dihargai dengan uang, sehingga makin besar kepuasan makin mahal harganya. Jika konsumen memperoleh tingkat kepuasan yang besar maka dia akan mau membayar mahal, sebaliknya jika kepuasan yang dirasakan konsumen redah maka dia hanya akan mau membayar dengan harga murah.
Asumsi seorang konsumen
1.Konsumen harus rasional yaitu menginginkan kepuasan maksimal.
2.Konsumen punya preferensi jelas akan barang dan jasa
3.Terdapat kendala anggaran
Cara untuk maksimisasi daya guna total konsumen adalah :
MUa = MUb = MUx

Pada pembahasan pendekatan Kardinal terdapat Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II, yang berbunyi:
Hukum Gossen I berbunyi:
“ Jika pemenuhan kebutuhan akan suatu jenis barang dilakukan secara terus- menerus, maka rasa nikmatnya bermula-mula akan tinggi, namun semakin lama kenikmatan tersebut semakin menurun sampai akhirnya mencapai titik jenuh.’
Hukum Gossen II berbunyi:
“Manusia akan berusaha memuaskan yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama.”

Teori Kepuasan Konsumen
1. Nilai Guna Total Nilai kepuasan secara keseluruhan yang didapat konsumen dari
mengkonsumsi suatu barang dan jasa.
2. Nilai Guna Marginal (kepuasan marjinal)

Tambahan kepuasan yang dinikmati oleh konsumen dari setiap
tambahan barang atau jasa yang di konsumsinya.

b. Pendekatan Ordinal

Pendekatan ordinal digunakan karena pendekatan kardinal bersifat subjektif, maka pendekatan ordinal lebih memberi penekatan pada preferensi yaitu membuat peringkat (rangking) atau urutan-urutan kombinasi barang yang dikonsumsi.

Mendasarkan pada asumsi bahwa kepuasan tidak bisa dikuantitatifkan dan  antara satu konsumen dengan konsumen yang lain akan mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda dalam mengkonsumsi barang dalam jumlah dan jenis yang sama. Oleh karena itu kemudian muncul pendekatan ordinary yang menunjukkan tingkat kepuasan mengkonsumsi barang dalam model kurva indifferent. Pendekatan ordinal berdasarkan pembandingan sesuatu barang dengan barang yang lain, lalu memberikan urutan dari hasil pembandingan tersebut. Contoh penggunaan metode ordinal antara lain dalam suatu lomba atau kejuaraan, pengukuran indeks prestasi dan pengukuran yang sifatnya kualitatatif misalnya bagus, sangat bagus, paling bagus.
Dalam teori perilaku konsumen dengan pendekatan ordinal asumsi dasar seorang konsumen adalah :
1.Konsumen rasional, mempunyai skala preferensi dan mampu merangking kebutuhan yang dimilikinya
2.Kepuasan konsumen dapat diurutkan, ordering
3.Konsumen lebih menyukai yang lebih banyak dibandingkan lebih sedikit, artinya semakin banyak barang yang dikonsumsi menunjukkan semakin tingginya tingkat kepuasan yang dimilikinya.

Pendekatan ordinal membutuhkan tolok ukur pembanding yang disebut dengan indeferent kurve. Kurva Indeferent adalah Kurva yang menghubungkan titik – titik kombinasi 2 macam barang yang ingin dikonsumsi oleh seorang individu pada tingkat kepuasan yang sama.
Ciri – ciri kurva Indiferent :
1.Berlereng/ slope negatif. Hal ini menunjukkan apabila dia ingin mengkonsumsi barang X lebih banyak maka harus mengorbankan konsumsi terhadap barang Y
2.Cembung ke titik Origin ( Convex ) . Derajat penggantian antar barang konsumsi semakin menurun. Hal ini masih berkaitan dengan hukum Gossen, di mana apabila pada titik tertentu semakin banyak mengkonsumsi barang X akan mengakibatkan kehilangan atas barang X tidak begitu berarti dan sebaliknya atas barang Y
3.Tidak saling berpotongan. Ini berakitan dengan asumsi bahwa masing – masing kurva indiferent menunjukkan tingkat kepuasan yang sama. Dengan pengertian apabila A = B dan A = C maka otomatis C = B padahal yang terjadi tidak demikian.
4.Semakin ke kanan menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi. Ketika kurva bergeser ke kanan akan menunjukkan kombinasi barang X dan Y yang bisa dikonsumsi oleh seseorang semakin banyak. Hal inilah yang menyebabkan semakin bertambahnya kepuasan dengan pergeseran kurva ke kanan.

B. Konsep Elastisitas

Dalam ilmu ekonomi, elastisitas adalah perbandingan perubahan proporsional dari sebuah variabel dengan perubahan variable lainnya. Dengan kata lain, elastisitas mengukur seberapa besar besar kepekaan atau reaksi konsumen terhadap perubahan harga.

Dalam hal ini pada dasrnya ada tiga variabel utama yang mempengaruhi, maka dikenal tiga elastisitas permintaan, yaitu :

1. elastisitas harga permintaan

2. elastisitas silang

3. elastisitas pendapatan

1. Elastisitas Harga Permintaan (the price elasticity of demand)

Elastisitas harga permintaan adalah derajat kepekaan/ respon jumlah permintaan akibat perubahan harga barang tersebut atau dengan kata lain merupakan perbadingan daripada persentasi perubahan jumlah barang yang diminta dengan prosentase perubahan pada harga di pasar, sesuai dengan hukum permintaan, dimana jika harga naik, maka kuantitas barang turun Dan sebaliknya.

Sedangkan tanda elastisitas selalu negatif, karena sifat hubungan yang berlawanan tadi, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar indeksnya/koefisiennya dapat kurang dair, dama dengan lebih besar dari satu Dan merupakan angka mutlak (absolute), sehingga permintaannya dapat dikatakan :

  1. Tidak elastisitas (in elastic)
  2. Unitari (unity) dan
  3. Elastis (elastic)

Pada suatu kurva permintaan akan terdapat ketiga keadan tersebut, tergantung dititik mana mengjkurnya. Pada harga tinggi, elastisitasnya lebih besar dari satu atau elastis, pada harga yang rendah elastisitasnya kurang dari satu atau tidak elastis (in elastic), sedangkan titik tengah dari kurva permintaan mempunya elastisitas sama dengan satu atau unity (unitari),

Disamping tiga bentuk elastisitasharga permintaan diatas, ada dua lagi elastisitas harga permintaan, yaitu :

  1. Permintaan yang elastis sempurna (perfectly Elastic), ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlahbarang yang diminta terhadap harga, bentuk kurva permintaannya merupakan garis horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu gabris horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu datar, besar elastisitasnya tidak berhingga (Eh =ς) pada kondisi ini berapapun jumlah permintaan, harga tidak berubah atau pada tingkat harga yang jumlah permintaan dapat lebih banyak.
  2. Kurva permintaan yang tidak elastis sempurna (perfectly inelastic), ini merupakan tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, bentuk kurva permintaannya vertikal dengan sempurna sejajar dengan sumbu tegak, besar koefisien elastisitasnya adalah nol (Eh = 0), artinya bagaimanapun harga tinggi, konsumen tidak akan mengurangi jumlah permintaannya.

Elastisitas akan besar bilamana :

  1. terdapat banyak barang subsitusi yang baik
  2. harga relatif tinggi
  3. ada banyak kemungkinan-kemungkinan penggunaan barang lain

Elastisitas umumnya akan kecil, bilamana :

  1. benda tersebut digunakan dengan kombinasi benda lain
  2. barang yang bersangkutan terdapat dalam jumlah banyak, dan dengan harga-harga yang rendah.
  3. Untuk barang tersebut tidak terdapat barang-barang substitusi yang baik, Dan benda tersebut sangat dibutuhkan.

2.  Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand)

Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya tergantung pada harga barang tersebut. Tetapi juga pada preferensi konsumen, harga barang subsitusi dan komplementer Dan juga pendapatan.

Para ahli ekonomi mencoba mengukur respon/reaksi permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut, disebut dengan elastisitas silang (Cross Price Elasticity of demand)

Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y

Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, misalnya  kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.

Apabila barang lain tersebut bersifat substitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi Dan sebaliknya.

3.  Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand)

Suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan konsumer akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan apa yang disebut elastisitas pendapatan.

Elastisitas pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perobahan pendapatan, dengan rumus.

Δ Q                Δ Y                                        Δ Q                Y

Em  =  ——-      :    ——–             atau      Em  = ——–   x     ——–

Q                   Y                                          ΔY                 Q

Jika Em= 1 (Unity), maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah barang yang diminta;

Jika Em>1 (Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.

Jika pendapatan naik; jika Em < 1 (in Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.

Apabila yang terjadi adalah kenaikkan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta sebut barang normal atau superior.

Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negatif dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.

Soal Pilihan Ganda

Pertanyaan Ganda

Pilihlah jawaban yang tepat !!!

  1. Konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat pada suatu negara/daerah tertentu disebut….
    1. konsumsi agregat                          d. konsumsi individu
    2. konsumsi makanan                        e. konsumsi masyarakat untuk barang
    3. konsumsi bukan makanan                 tertentu
  1. Jika pendapatan meningkat lima kali lipat, pengeluaran untuk makanan cenderung akan ….
    1. tetap jumlahnya
    2. meningkat walaupun tidak secepat peningkatan pendapatan
    3. meningkat kurang dari sepuluh kali lipat
    4. tetap kualitasnya
    5. menurun jumlahnya
  1. Semakin meningkat pendapatan, maka…..
  2. pengeluaran untuk barang-barang tahan lama akan meningkat
  3. pengeluaran untuk barang-barang tahan lama akan menurun
  4. pengeluaran untuk barang-barang tahan lama tidak berubah
  5. seluruh pengeluaran menurun
  6. sebagian pengeluaran menurun
  1. Yang disebut sebagai pendekatan marginal utility adalah….
  2. pendekatan ordinal                       d. pendekatan kardinal
  3. pendekatan kurva different          e. pendekatan konsumen
  4. pendekatan  kurva indifferent
  1. Manusia akan berusaha memuaskan kebutuhannya yang beraneka ragam sampai mencapai tingkat intensitas yang sama adalah bunyi…
    1. hukum gossen I                             d. hukum konsep ordinal
    2. hukum  gossen II                          e. hukum indifferent
    3. hukum konsep kardinal
  1. Kurva indifferent adalah…
  2. tingkat kepuasan total yang hanya dapat dibandingkan melalui urutannya
  3. tingkat kepuasan yang perlahan-lahan akan menurun hingga titik nol
  4. kurva yang menggambarkan titik-titik kombinasi konsumsi yang menunjukan tingkat utilitas yang sama
  5. jumlah kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi barang atau jasa
  6. tingkat kepuasan total yang diperoleh dari mengkonsumsi seluruh barang/jasa
  1. Pendekatan yang menunjukan tingkat kepuasan mengkonsumsi barang dalam model kurva indifferent adalah…
    1. pendekatan kardinal                      d. pendekatan produsen
    2. pendekatan ordinal                       e. pendekatan konsumsi
    3. pendekatan konsumen
  1. Semakin ke kanan kurva indifferent menunjukkan tingkat kepuasan yang …
  2. menurun                            d. meningkat lalu menurun
  3. tetap                                  e. semakin tinggi
  4. semakin menurun
  1. Ciri-ciri kurva indifferent, kecuali….

a.   Berlereng/ slope negatif

b.   Cembung ke titik Origin ( Convex )

c.   Tidak saling berpotongan

d.   Saling berpotongan

e.   Semakin ke kanan menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi

10.  Faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat konsumsi, kecuali…

  1. Kebudayaan                      d. harga barang
  2. adat istiadat                      e. pendapatan
  3. status social

Disusun Oleh : Rizka Amalia

11108712

pengorganisasian dan perkembangan organisasi

Maret 20, 2010

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan ridhonya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah softskill.

Dalam makalah ini, penulis menyadari bahwa hasil yang dicapai masih jauh dari sempurna, terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penyajian materi maupun tata bahasa penulisan. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun dalam perbaikan serta koreksi bagi penulis.

Akhir kata penulis persembahkan makalah ini  agar dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Jakarta,  Maret 2010

DAFTAR ISI

Kata pengantar

BAB I  Pendahuluan

1.Pengertian perngorganisasian dan Organisasi

2.Azas-Azas Organisasi

3.Bentuk-bentuk Organisasi

4.Macam-macam Organisasi

BAB 2  Perkembangan dan Perubahan Organisasi

1.Perkembangan Organisasi

2.Perubahan pada Kondisi yang Diinginkan

3.Mengernal Perubahan

4.Kefektifan Pengembangan Organisasi

BAB 3  Komitmen Organisasi

1.Perkembangan Organisasi

2.Bentuk-bentuk Komitmen Organisasi

3.Proses Pembentukan Komitmen Organisasi

4.Aspek-Aspek Komitmen Organisasi

5.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Organisasi

BAB 4 Penutup

1. Kesimpulan

BAB I

PENDAHULUAN

1.Pengertian Pengorganisasian dan Organisasi

Organisasi adalah Organisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan yang erat dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukan kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan

Pengorganisasian adalah Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi organik dari manajemen dan ditempatkan sebagai fungsi kedua setelah perencanaan (planning). Dengan demikian, antara organisasi dan pengorganisasian memiliki pengertian yang berbeda.

Winardi,berpendapat bahwa:“…organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakat mencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individu yang bertidak secara sendiri”

2.Azas – azas Organisasi

-         Pembagian kerja

-         Asas wewenang dan tanggungjawab

-         Disiplin

-         Kesatuan perintah

-         Kesatuan arah

-         Asas kepentingan umum

-         Pemberian janji yang wajar

-         Pemusatan wewenang

-         Rantai berkala

-         Asas keteraturan

-         Asas keadilan

-         Kestabilan masa jabatan

-         Inisiatif

-         Asas kesatuan

3.Bentuk – Bentuk Organisasi

Ada beberapa bentuk berbeda dari struktur organisasi dalam sebuah tim. Tim yang sudah terorganisir dan tersturktur dengan baik sangatlah penting, karena akan mengarahkan tim tersebut menjadi sebuah tim yang ahli dan cakap dalam bekerja. Pengambilan keputusan dalam sebuah tim bergantung pada bagaimana cara tim tersebut akan bekerja bersama. Macam-macam bentuk organisasi tersebut adalah:

4.Macam – macam organisasi

1.Democratic Decentralized (DD)

Tidak memiliki pemimpin yang permanen. Koordinator dipilih untuk menangani suatu tugas yang harus diselesaikan. Koordinator pun bisa berubah/diganti bila ada perubahan dalam pekerjaan (task). Keputusan yang dibuat harus berdasarkan konsensus kelompok, bukan hanya wewenang satu orang saja.

Komunikasi sangatlah penting karena setiap individu harus benar-benar paham akan segala sesuatu yang harus ditangani / dikerjakan. Sifat komunikasi antar anggota di sini adalah komunikasi horizontal, karena tidak ada istilah pimpinan dan bawahan dalam bentuk organisasi ini.

2.Controlled Decentralized (CD)

Memiliki satu pemimpin utama yang menangani dan mengkoordinir tugas-tugas utama. Terdapat pemimpin-pemimpin sekunder yang dipilih pemimpin utama untuk mengkoordinir dan menangani sub-sub tugas yang dibagi berdasarkan kebijakan pemimpin utama. Pemimpin sekunder ini menjadi koordinator dalam sub-sub group yang dibentuk berdasarkan pembagian tugas.

Pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama antar anggota dalam masing-masing sub group. Sedangkan pengambilan keputusan antar group diputuskan oleh pemimpin utama. Komunikasi juga tetap diperlukan dalam satu sub group. Komunikasi dilakukan secara horizontal antar anggota dalam satu sub group. Tetapi terjadi komunikasi vertikal antara sub-sub kelompok dengan pemimpin utama tim.

3.Controlled Centralized (CC)

Hanya ada pimpinan utama tim di sini, semua tugas dikoordinir dan ditangani langsung oleh pimpinan utama. Semua pengambilan keputusan terhadap suatu masalah berada di tangan pimpinan utama.

Pimpinan utama ini pula yang menentukan anggota kelompok mana yang harus bekerja dan tidak bekerja. Semua komunikasi tim harus melalui pimpinan utama. Karena itu sifat komunikasi dalam bentuk organisasi ini hanya bersifat vertikal.

BAB II

PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN ORGANISASI

1.Perkembangan Organisasi

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial. Hal ini turut mendorong manusia membentuk organisasi untuk mewujudkan cita-citanya. Karena itu, organisasi muncul ketika manusia itu berkumpul dua orang atau lebih.

Bahkan, sebelum manusia terlahir ke muka bumi ini, benih-benih organisasi juga telah tersirat sejak awal proses penciptaan manusia di alam rahim. Seperti yang dijelaskan oleh ilmu kedokteran, sel sperma seorang laki-laki dikatakan normal apabila berjumlah minimal 20 juta sel sperma. Padahal, hanya satu sel yang dibutuhkan untuk melakukan pembuahan dengan sel telur milik sang istri. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa manusia memang ditakdirkan untuk berorganisasi dalam mencapai tujuan.

Sepanjang sejarah perkembangan manusia, juga ditemukan bukti-bukti bahwa organisasi itu telah muncul di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan orang-orang Yunani, kerajaan-kerajaan yang telah dibangun pada masa Romawi juga menunjukkan bahwa mereka telah membentuk dan membangun organisasi yang baik.

Dengan demikian, manusia dan organisasi serta aktivitasnya telah berlangsung lama sejak ribuan tahun silam, tapi yang dibutuhkan dan perlu untuk diketahui adalah akar perkembangan organisasi pada abad ke-18 dan ke-19.

2.Perubahan Pada Kondisi yang diinginkan

*        Adam Smith, 1776; Adam Smith telah memberikan kontribusi yang sangat penting dengan doktrin ekonominya, yaitu spesialisasi bidang kerja atau pembagian tugas dengan berbagai argumentasi yang sangat dalam. Adam Smith memberikan contoh pembagian tugas dengan spesialisasi bidang kerja tertentu dalam pabrik pembuatan peniti. Ada sepuluh orang pekerja dalam pabrik tersebut, setiap orang mempunyai tugas tertentu dengan mengerjakan suatu bagian kerja tertentu. Sepuluh orang pekerja tersebut dapat membuat 48.000 buah peniti tiap harinya. Selanjutnya, jika setiap pekerja mengambil kawat sendiri-sendiri kemudian meluruskannya, membuatkan ujung batangnya, hasilnya setiap pekerja mampu membuat satu peniti dalam satu hari. Kalau ada sepuluh pekerja maka dapat membuat sepuluh peniti setiap hari. Dan spesialisasi bidang pekerjaan tertentu pada masa sekarang ini sudah barang tentu termotivasi oleh keuntungan yang berlipat ganda dari doktrin Adam Smith pada 2 abad silam.

*        Charles Babbage, 1832; Charles Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris yang telah mengembangkan sistem pembagian tugas yang telah diartikulasikan pertama kali oleh Adam Smith. Babbage menambahkan beberapa keuntungan dengan sistem pembagian tugas, yang telah dikemukakan oleh Adam Smith. Selain keterampilan, menghemat waktu yang terkadang sering disia-siakan terbuang ketika penggantian tugas satu ke tugas yang lain.

Keuntungan tersebut yaitu:

-         Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk belajar suatu pekerjaan

-         Menghemat pemborosan material yang diperlukan dalam pelajaran pada tiap tingkatan.

-         Memungkinkan untuk menghasilkan tingkat keteram¬pilan yang tinggi.

-         Memungkinkan kemampuan untuk membandingkan keterampilan seseorang dan bakat fisik dengan tugas-tugas tertentu.

*        Robert Owen, 1825; Robert Owen adalah orang periling dan berjasa dalam sejarah perilaku organisasi karena ia adalah seorang industrialis pertama yang mengingatkan bagaimana sistem pabrik yang sedang tumbuh dan berkembang telah merendahkan para pekerja. Ia menolak praktik-praktik kekerasan yang ia lihat di pabrik-pabrik, seperti anak yang bekerja di bawah umur 10 tahun, 13 jam kerja tiap hari dengan kondisi kerja yang menyedihkan. Owen menjadi seorang reformer, ia mencek para pemilik pabrik yang memperlakukan peralatan lebih baik dibandingkan dengan para karyawannya, ia mengkritik mereka yang membeli mesin dengan harga mahal sementara membayar para pekerja yang menjalankan mesin tersebut dengan harga sangat murah. Owen mengatakan bahwa mempergunakan uang untuk meningkatkan para pekerja merupakan salah satu investasi terbaik yang menjadi pilihan para eksekutif bisnis, ia mengklaim bahwa memperlihatkan concern kepada para karyawan akan sangat menguntungkan untuk manajemen dan membebaskan kesengsaraan manusia. Untuk ukuran zaman Owen ia tentu sangat idealis tapi seratus tahun setelah tahun 1825 ditetapkan jam kerja untuk semua, undang-undang perburuhan anak, pendidikan untuk umum, perusahaan memberikan makan pada waktu kerja.

3.Mengenal Perubahan

Di dalam lingkungan makro, seperti Anda kenali, terjadi berbagai perubahan yang bersifat alami, seperti siklus hidup atau life-cycle. Di dalam contoh kita, perusahaan di kota kecil tadi mengalami perubahan siklus yang tidak disadari oleh pemilik dan seluruh stafnya. Mereka sudah berada di tahap puncak pertumbuhannya. Perubahan-perubahan alami serupa ini terjadi pada hidup pribadi Anda, seorang pemimpin, pengikut, atau orang-orang lain yang terkait dengan organisasi atau komunitas kita. Perubahan serupa ini terjadi pula dengan sebuah kota, teknologi, pola pikir, suatu masyarakat, bahkan agama sekalipun. Misalnya, pemahaman tentang dunia yang dianggap sebagai suatu piring datar dan memiliki tepi, kini sudah usang. Demikian pula pandangan tentang bumi sebagai pusat tata surya. Lebih abstrak lagi, paham yang membedakan manusia sebagai kafir atau beriman, kini semakin banyak ditinggalkan orang dan digantikan dengan paham baru bahwa semua manusia saling terkait dan unik dalam paradigma masing-masing.

Apa yang harus seorang pemimpin lakukan terhadap perubahan alamiah itu? Terhadap perubahan yang mengikuti siklus hidup tadi, seorang pemimpin perlu senantiasa meneliti dan mempelajari pada tahap mana dari siklus itu ia dan pengikutnya berada. Akan sangat fatal bila ia mengira bahwa organisasinya masih berada pada tahap pertumbuhan yang membutuhkan banyak dana, padahal mereka sudah berada pada tahap uzur dimana dana justru harus dihemat. Disamping itu, ia perlu meneliti kalau-kalau cara memimpinnya tidak lagi cocok untuk suatu tahap baru dari kehidupan organisasinya.

4.Keefektifan Pengembagan Organisasi

-         Menciptakan keharmonisan hubungan kejra antara pimpinan dengan staf anggota organisasi

-         Menciptakan kemampuan memecahkan persoalan organisasi secara lebih terbuka

-         Menciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi

-         Merupakan semangat kerja para anggota organisasi dan kemampuan mengendalikan diri

BAB III

KOMITMEN ORGANISASI

1.Pengertian Komitment Organisasi

Komitment organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Stephen P. Robbins didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja.

2.Bentuk – bentuk Komitmen Organisasi

  1. Komitmen efektif (effective comitment): Keterikatan emosional karyawan, dan keterlibatan dalam organisasi,
  2. Komitmen berkelanjutan (continuence commitment): Komitmen berdasarkan kerugian yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari organisasi. Hal ini mungkin karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit,
  3. Komitmen normatif (normative commiment): Perasaan wajib untuk tetap berada dalam organisasi karena memang harus begitu; tindakan tersebut merupakan hal benar yang harus dilakukan.

3.Proses Pembentukan Komitmen Organisasi

Komitmen organisasi merupakan salah satu faktor penting bagi kelanggengan suatu organisasi. Tanpa adanya komitmen organisasi yang kuat dalam diri individu, tidak akan mungkin suatu organisasi dapat berjalan dengan maksimal. Banyak sekali penelitian-penelitian yang mengupas dan memahami permasalahan komitmen ornagisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Dunham, Grube dan Castaneda (1994) mengatakan bahwa adanya komitmen organisasi yang tinggi pada setiap diri individu sangat berhubungan erat denagn rasa memiliki individu terhadap organisasi.

Miner (1988) menjelaskan bahwa ada tiga tahap proses pembentukan komitmen terhadap organisasi. Tahap-tahap tersebut merupakan serangkaian waktu yang digunakan oleh individu untuk mencapai puncak karir. Tahap-tahap ini adalah:

  1. Komitmen awal. Ini terjadi karena adanya interaksi antara karakteristik personal dan karakteristik pekerjaan. Interaksi tersebut akan membentuk harapan karyawan tentang pekerjaannya. Harapan tentang pekerjaan inilah yang akan mempengaruhi sikap karyawan terhadap tingkat komitmen terhadap organisasi.
  2. Komitmen selama bekerja. Proses ini dimulai setelah individu bekerja. Selama bekerja karyawan mempertimbangkan mengenai pekerjaan, pengawasan, gaji, kekompakan kerja, serta keadaan organisasi dan ini akan menimbulkan perasaan tanggung jawab pada diri karyawan tersebut.
  3. Komitmen selama perjalanan karir. Proses terbentuknya komitmen pada tahap masa pengabdian terjadi selama karyawan meniti karir didalam organisasi. Dalam kurun waktu yang lama tersebut, karyawan telah banyak melakukan berbagai tindakan, seperti investasi, keterlibatan sosial, mobilitas sosial, mobilitas pekerjaan dan pengorbanan-pengorbanan lainnya.

4.Aspek-Aspek Komitmen Organisasi

Komitmen berorganisasi ditandai oleh suatu keinginan untuk memelihara anggotanya, terlibat dalam bekerja dan menyesuaikan nilai-nilai pribadi dengan tujuan-tujuan serta kebijaksanaan organisasi.

    1. Perasaan manunggal dengan tujuan organisasi (identifikasi), yang meliputi minat dan tujuan yang sama dengan anggota organisasi lain.
    2. Perasaan terlibat dalam organisasi, dimana perasaan terlibat pada organisasi merupakan perasaan ikut memiliki dari karyawan terhadap organisasi.
    3. Perasaan setia atau loyal pada perusahaan, merupakan kesetiaan individu dengan memberikan dukungan serta mempertahankan kebijaksanaan organisasi.

5.Faktor – faktor yang mempegaruhi komitmen organisasi

Komitmen organisasi sangat terkait dengan faktor individu dan juga faktor organisasi (Schultz dan Ellen, 1994). Individu yang telah berada dalam suatu organisasi lebih dari dua tahun, dan individu yang memiliki keinginan untuk berkembang, memiliki komitmen organisasi yang tinggi disbanding dengan individu yang baru masuk didalam suatu organisasi (Schultz dan Ellen, 1994). Penelitian yang dilakukan oleh O’ Driscoll (dalam Schultz dan Ellen, 1994) pada 119 karyawan didaerah New Guenia, menunjukkan bahwa perkembangan komitmen organisasi akan terlihat setelah enam bulan individu bergabung didalam suatu organisasi, dan selanjutnya penelitian tersebut menemukan hubungan yang positif antara komitmen organisasi dengan kepuasan kerja.atau dapat dikelompokan menjadi 4 bagian.

  1. karakteristik individu (usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan)
  2. karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan
  3. karakteristik struktural (formalitas, desentralisasi
  4. pengalaman dalam kerja

BAB IV

PENUTUP

1.Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap komitmen organisasi diantaranya adalah kejujuran dalam pekerjaan, perhatian, kepedulian dan kepercayaan terhadap karyawan, perbedaan karakteristik individu (usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan, karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan, karakteristik struktural (formalitas, desentralisasi), pengalaman dalam kerja, kepercayaan dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai dan tujuan organisasi, keinginan bekerja keras demi kepentingan organisasi, dan keinginan untuk mempertahankan diri agar tetap menjadi anggota organisasi.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek komitmen organisasi meliputi kemauan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi yang ditandai dengan kesetiaan pada organisasi atau perusahaan, kemampuan yang kuat berusaha semaksimal mungkin demi kemajuan dengan ikut mendukung kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan sasaran organisasi serta adanya penerimaan nilai, tujuan dan sasaran organisasi. Aspek-aspek yang akan dijadikan alat ukur adalah perasaan manunggal dengan organisasi, perasaan terlibat pada organisasi, dan perasaan setia dan loyal pada perusahaan.

Disusun Oleh : Rizka amalia

11108712

MOTIVASI ORGANISASI

Desember 30, 2009

Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Dalam kehidupan, motivasi memiliki peranan yang sangat penting. Sebab, motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, sehingga mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Tanpa adanya motivasi dalam diri seseorang, maka dapat dipastikan bahwa orang itu tidak akan bergerak sedikitpun dari tempatnya berada. Begitupun dalam kehidupan berorganisasi, motivasi organisasi sangat mutlak adanya. Sehebat apapun recana yang telah dibuat oleh ketua organisasi, apabila dalam proses aplikasinya dilakukan oleh anggota yang kurang atau bahkan tidak memiliki motivasi yang kuat, maka akan menyebabkan tidak terealisasinya rencana tersebut. Tidak salah jika kemudian Flipo mendefinisikannya dengan “Direction or motivation is essence, it is a skill in aligning employee and organization interest so that behavior result achievement of employee want simultaneously with attainment or organizational objectives. Motivasi organisasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, manusia akan termotivasi oleh kebutuhan yang dimilikinya. Pendapat ini sejalan dengan Robin yang mengemukakan bahwa Motivasi organisasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Baron dalam Mangkunegara mendefinisikan motivasi organisasi sebagai proses pemberian dorongan kepada anak buah supaya anak buah dapat bekerja sejalan dengan batasan yang diberikan guna mencapai tujuan organisasi secara optimal. Motivasi ini dapat pula dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri. Terkait dengan motivasi organisasi, perlu kita pahami, lima fungsi utama manajemen adalah planning, organizing, staffing, leading, dan controlling. Pada pelaksanaannya, setelah rencana dibuat (planning), organisasi dibentuk (organizing), dan disusun personalianya (staffing). Langkah berikutnya adalah menugaskan atau mengarahkan anggota menuju ke arah tujuan yang telah ditentukan. Fungsi pengarahan (leading) ini secara sederhana adalah membuat anggota melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Memotivasi organisasi merupakan kegiatan kepemimpinan yang termasuk di dalam fungsi ini. Kemampuan ketua organisasi untuk memotivasi anggotanya akan sangat menentukan efektifitas ketua. Ketua harus dapat memotivasi para anggotanya agar pelaksanaan kegiatan dan kepuasan kerja mereka meningkat. Jika ketua membiarkan anggotanya berjalan tanpamotivasi, maka bisa dipastikan kinerja organisasi yang memburuk, menemukan kegagalan program kerja, bahkan terancam bubar. Menurut Atkinson, suatu organisme (dalam hal ini manusia dan hewan) yang dimotivasi akan terjun ke dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien daripada yang tidak dimotivasi. Selain menguatkan organisme itu, motivasi organisasi cenderung mengarahkan perilaku (orang yang lapar dimotivasi untuk mencari makanan untuk dimakan; orang yang haus, untuk minum; orang yang kesakitan, untuk melepaskan diri dari stimulus/rangsangan yang menyakitkan. Jika demikian, motivasi organisasi memegang peranan yang tidak bisa diremehkan. Banyak cara yang bisa dilakukan, baik secara formal maupun informal. Baik secara organisatoris maupun pendekatan secara personal. Sebagai pimpinan organisasi, sebisa mungkin bisa memahami masalah anggotanya, sehingga bisa memecahkan masalah secara bersama. Peran evaluasi sangat penting dalam hal ini, sehingga tidak ada anggota yang merasa terpaksa menjalankan roda organisasi. Apalagi, jika organisasi bersifat sukarela, alias tidak ada upah kerja untuk anggotanya.http://wordpress.com/ordpress.com/

Kekuasaan – Pengaruh dalam Kepemimpinan

November 26, 2009

Dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, jika seseorang berusaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain, maka aktivitas seperti itu telah melibatkannya ke dalam aktivitas kepemimpinan. Jika kepemimpinan tersebut terjadi dalam suatu organisasi tertentu dan seseorang berupaya agar tujuan organisasi tercapai, maka orang tersebut perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan dapat dianggap sebagai “modalitas” dalam kepemimpinan, dalam arti sebagai cara-cara yang disenangi dan digunakan oleh seseorang sebagai wahana untuk menjalankan kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.Atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku yang konsisten ditunjukkan dan sebagai yang diketahui oleh pihak lain ketika seseorang berusaha mempengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain. Perilaku ini dikembangkan setiap saat dan yang dipelajari oleh pihak lain untuk mengenal ataupun menilai kepemimpinan seseorang. Namun demikian, gaya kepemimpinan seseorang tidaklah bersifat “fixed”. Maksudnya adalah bahwa seorang pemimpin mempunyai kapasitas untuk membaca situasi yang dihadapinya dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi tersebut, meskipun penyesuaian itu mungkin hanya bersifat sementara. Pada pihak lain, setiap pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen atau watak, dan kepribadian sendiri yang unik/khas, sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakannya dari orang lain. Gaya/style hidupnya ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya.

Tipe kepemimpinan seseorang menurut Sondang P Siagian (1994: 27-45) dapat dianalisis dengan menggunakan kategorisasi berdasarkan:

Ø Persepsi seorang pemimpin tentang peranannya selaku pemimpin
Ø Nilai-nilai yang dianut
Ø Sikap dalam mengemudikan jalannya organisasi
Ø Perilaku dalam memimpin
Ø Gaya kepemimpinan yang dominant

Prinsip pertama dalam kepemimpinan adalah adanya hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tanpa yang dipimpin tidak ada orang yang perlu memimpin. Prinsip kedua adalah bahwa pemimpin yang efektif menyadari dan mengelola secara sadar dinamika hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin (Richard Beckhard, 1995:125-126).

Keberhasilan seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsinya tidak hanya ditentukan oleh salah satu aspek semata-mata, melainkan antara sifat, perilaku, dan kekuasaan-pengaruh saling menentukan sesuai dengan situasi yang mendukungnya. Kekuasaan-pengaruh mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin dalam mempengaruhi, menggerakkan, dan mengubah perilaku yang dipimpinnya ke arah pencapaian tujuan organisasi.

Kekuasaan

Konsepsi mengenai kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari kemampuan, kewibawaan, dan kekuasaan. Seorang pemimpin, karena status dan tugas-tugasnya pasti mempunyai kekuasaan. Kekuasaan merupakan kapasitas untuk mempengaruhi secara unilateral sikap dan perilaku orang ke arah yang diinginkan (Gary Yukl,1996: 183).

Konsepsi mengenai sumber kekuasaan yang telah diterima secara luas adalah dikotomi antara “position power” (kekuasaan karena kedudukan) dan “personal power” (kekuasaan pribadi). Menurut konsep tersebut, kekuasaan sebagian diperoleh dari peluang yang melekat pada posisi seseorang dalam organisasi dan sebagian lagi disebabkan oleh atribut-atribut pemimpin tersebut serta dari hubungan pemimpin – pengikut. Termasuk dalam position power adalah kewenangan formal, kontrol terhadap sumber daya dan imbalan, kontrol terhadap hukuman, kontrol terhadap informasi, kontrol ekologis. Sedangkan personal power berasal dari keahlian dalam tugas, persahabatan, kesetiaan, kemampuan persuasif dan karismatik dari seorang pemimpin (Gary Yukl,1996:167-175). Dengan bahasa yang sedikit berbeda, Kartini Kartono (1994:140) mengungkapkan bahwa sumber kekuasaan seorang pemimpin dapat berasal dari

a. Kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain;
b. Sifat dan sikapnya yang unggul, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
c. Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas;
d. Memiliki kemahiran human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi.

Kekuasaan merupakan kondisi dinamis yang dapat berubah sesuai perubahan kondisi dan tindakan-tindakan individu atau kelompok. Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana kekuasaan diperoleh, dipertahankan atau hilang dalam organisasi. Teori tersebut adalah

* Social Exchange Theory, menjelaskan bagaimana kekuasaan diperoleh dan hilang selagi proses mempengaruhi yang timbal balik terjadi selama beberapa waktu antara pemimpin dan pengikut. Fokus dari teori ini mengenai expert power dan kewenangan.

* Strategic Contingencies Theory, menjelaskan bahwa kekuasaan dari suatu subunit organisasi tergantung pada faktor keahlian dalam menangani masalah penting, sentralisasi unit kerja dalam arus kerja, dan tingkat keahlian dari subunit tersebut.

Para pemimpin membutuhkan kekuasaan tertentu untuk dapat efektif, namun hal itu tidak berarti bahwa lebih banyak kekuasaan akan lebih baik. Jumlah keseluruhan kekuasaan yang diperlukan bagi kepemimpinan yang efektif tergantung pada sifat organisasi, tugas, para bawahan, dan situasi. Pemimpin yang mempunyai position power yang cukup, sering tergoda untuk membuat banyak orang tergantung padanya daripada mengembangkan dan menggunakan expert power dan referent power. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemimpin yang mempunyai position power yang terlalu kuat cenderung menggunakannya untuk mendominasi dan mengeksploatasi pengikut. Sebaliknya, seorang pemimpin yang tidak mempunyai position power yang cukup akan mengalami kesukaran dalam mengembangkan kelompok yang berkinerja tinggi dalam organisasi. Pada umumnya, mungkin lebih baik bagi seorang pemimpin untuk mempunyai position power yang sedang saja jumlahnya, meskipun jumlah yang optimal akan bervariasi tergantung situasi.

Sedangkan dalam personal power, seorang pemimpin yang mempunyai expert power atau daya tarik karismatik sering tergoda untuk bertindak dengan cara-cara yang pada akhirnya akan mengakibatkan kegagalan.

Pengaruh
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.
Jenis-jenis spesifik perilaku yang digunakan untuk mempengaruhi dapat dijadikan jembatan bagi pendekatan kekuasaan dan pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan.

Sejumlah studi telah mengidentifikasi kategori perilaku mempengaruhi yang proaktif yang disebut sebagai taktik mempengaruhi, antara lain :

* Persuasi Rasional:

Pemimpin menggunakan argumentasi logis dan bukti faktual untuk mempersuasi pengikut bahwa suatu usulan adalah masuk akal dan kemungkinan dapat mencapai sasaran.

* Permintaan Inspirasional:

Pemimpin membuat usulan yang membangkitkan entusiasme pada pengikut dengan menunjuk pada nilai-nilai, ide dan aspirasi pengikut atau dengan meningkatkan rasa percaya diri dari pengikut.

* Konsultasi:

Pemimpin mengajak partisipasi pengikut dalam merencanakan sasaran, aktivitas atau perubahan yang untuk itu diperlukan dukungan dan bantuan pengikut atau pemimpin bersedia memodifikasi usulan untuk menanggapi perhatian dan saran dari pengikut.

* Menjilat:

Pemimpin menggunakan pujian, rayuan, perilaku ramah-tamah, atau perilaku yang membantu agar pengikut berada dalam keadaan yang menyenangkan atau mempunyai pikiran yang menguntungkan pemimpin tersebut sebelum meminta sesuatu.

* Permintaan Pribadi:

Pemimpin menggunakan perasaan pengikut mengenai kesetiaan dan persahabatan terhadap dirinya ketika meminta sesuatu.

* Pertukaran:

Pemimpin menawarkan suatu pertukaran budi baik, memberi indikasi kesediaan untuk membalasnya pada suatu saat nanti, atau menjanjikan bagian dari manfaat bila pengikut membantu pencapaian tugas.

* Taktik Koalisi:

Pemimpin mencari bantuan dari orang lain untuk mempersuasi pengikut agar melakukan sesuatu atau menggunakan dukungan orang lain sebagai suatu alasan bagi pengikut untuk juga menyetujuinya.

* Taktik Mengesahkan:

Pemimpin mencoba untuk menetapkan validitas permintaan dengan menyatakan kewenangan atau hak untuk membuatnya atau dengan membuktikan bahwa hal itu adalah konsisten dengan kebijakan, peraturan, praktik atau tradisi organisasi.

* Menekan:

Pemimpin menggunakan permintaan, ancaman, seringnya pemeriksaan, atau peringatan-peringatan terus menerus untuk mempengaruhi pengikut melakukan apa yang diinginkan.

Pilihan mengenai perilaku mempengaruhi tergantung pada position power dan personal power yang dimiliki pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya pada situasi tertentu. Perilaku mempengaruhi seorang pemimpin secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang dipimpin baik berupa komitmen, kepatuhan maupun perlawanan. Hasil dari proses mempengaruhi, juga mempunyai efek umpan balik terhadap perilaku pemimpin.Selain itu, dampak kekuasaan pemimpin pada dasarnya tergantung pada apa yang dilakukan pemimpin dalam mempengaruhi orang yang dipimpin.Dengan demikian, hasil dari usaha mempengaruhi merupakan akumulasi dari keterampilan mempengaruhi, perilaku mempengaruhi, dan kekuasaan pemimpin.

 

sumber : http://massofa.wordpress.com/2009/02/22/kekuasaan-%E2%80%93-pengaruh-dalam-kepemimpinan/

ORGANISASI

November 26, 2009

Sebenarnya texxt book mengenai bahasan apa itu organisasi dan seluk beluknya amatlah banyak. Baik terbitan luar negri maupun karangan lokal sudah sedemikian banyaknya. Ilmu yang spesifik menyebut ‘organisasi’ memang baru hangat dituangkan dalam bentuk tulisan dan diperbincangkan semenjak satu hingga dua abad lalu. Walaupun sebenarnya ketika penciptaan manusia telah menuntut kehidupan sosial, organisasi telah ada. Mungkin pada abad pertengahan, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain yang seolah sengaja ditenggelamkan oleh pihak barat, ilmu ‘organisasi’ telah eksis.

Belajar mengenai organisasi secara utuh bagi mahasiswa atau kalangan terpelajar laiannya; mulai dari hakikat dasar organisasi, struktur, desain hingga aplikasinya; rasanya kurang lengkap tanpa menyebut text book yang satu ini. Buku karangan ahli manajemen dan organisasi; Stephen P. Robbins. Staf pengajar di San Diego University ini sebenarnya telah menerbitkan buku dengan judul asli “Organizaion Theory; Structure, Design & Application” semenjak tahun 1983. Pertama kali terbitan Prentice Hall. Akan tetapi baru tahun 1994 oleh penerbit Arcan Jakarta diterjemahkan oleh Jusuf Udaya, dengan judul dalam bahasa Indonesia; Teori Organisasi; Struktur, Desain dan Aplikasi.

Disajikan dalam 4 bab utama. Bab pertama menyajikan cerita di balik pengertian organisasi. Selanjutnya membahas apa penyebab struktur atau kata lainnya adalah skema. Di bab 3 dipaparkan mengenai konsep desain atau bagaimana merancang organisasi. Dan yang terakhir diceriterakan masalah kontemporer seputar organisasi dan permasalahannya. Misalnya komunikasi sampai konflik organisasi.

Organsasi menurut penulis lebih banyak dikaji secara ilmu administratif. Itulah awal mula pembahasan organisasi menurut penulis. Walaupun saat ini, apalagi memasuki era globalisasi dan teknologi informasi, organisasi bukan hanya dikaji dalam takaran ilmu administratif tetapi telah menjangkau semua lini pembelajaran dan lintas ilmu. Stephen memulai penggambaran organisasi dengan sebuah cerita. Yang diberi judul “Celestical Seasoning”. Ia bercerita mengenai sepasang suami istri yang pada tahun 1971 di Amerika Serikat memulai berjualan obat-obatan dari tanaman. Diracik sendiri. Sepasang suami istri tersebut bernama Mio Siegel dan John. Dari mulai bisnis yang ditangani sendiri, hingga ternyata berkembang pesat. Tak pelak membutuhkan bukan beberapa orang tambahan pekerja, tetapi struktur yang jelas mengenai pembagian kerja. Dari situlah dikenalkan bagaimana organisasi terbentuk dan apa hakikat organisasi.

Seperti telah dipaparkan tadi bahwa organisasi terbentuk atas dua komponen utama, yakni orang dan sistem. Dua hal yang saling terikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Penulis menyebut teori organisasi berbeda dengan ‘Perilaku Organisasi’ (PO). PO lebih menekankan pada bahasan perilaku dan interaksi orang-orang di dalamnya secara mikro. Stephen tak lupa merangkum teori awal organisasi dan perkembangannya. Mulai dari ‘sistem tertutup’ yang dianut organisasi pada abad 18-19, manajemen audit, cerita mengenai F. Taylor hingga Miles & Soagan. Stephen bukan hanya memaparkan teori struktur organisasi yang dikemukakan oleh Mintzberg (Sederhana, Birokrasi Profesional, Mesin Birokrasi, Divisi dan Adokrasi), tetapi juga mengemukakan bahasan baru. Ada 3 jenis struktur yang utama, yakni sentralisasi, formalitas dan kompleksitas. 3 variabel tersebut yang menjadi pembeda. Dikatakan pula bahwa penyebab terjadinya struktur dalam perspektif industrialisasi bermula dari proses industri, kemudian menjadi strategi dan berakhir pada pembuatan struktur organisasi. Jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu yang lebih relevan saat ini, maka istilah yang cukup mendekati untuk mewakili ‘strategi’ adalah ‘proses bisnis’.

Organisasi terus berkembang. Baik menuju perubahan maupun malah terpuruk. Terlepas dari itu semua, penulis membadi model perubahan organisasi menjadi dua jenis. Yakni model yang direncanakan dan yang terjadi begitu saja. Dalam perubahan itu pula; lebih tepat diistilahkan dengan perkembangan; ada konflik-konflik yang terjadi. Ada dua perspektif yang berbeda dalam memandang konflik. Yakni sebagai sebuah proses yang jelek, atau justru mengubahnya menjadi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan. Berikut adalah bagan yang mencoba mewakili perkembangan organisasi menuju proses tumbuh. Dapat dianalogikan menjadi sebuah life cycle dari organisasi.

Secara umum, ada 5 tahap krisisyang dialamai organisasi. Dan semuanya bukan merupakan proses yang secara utuh harus ada dan berurutan. Tetapi bisa berulang dan berkurang. Teori perkembangan dalam bagan di atas sampai saat ini masih cukup relevan.

Organisasi bukan sekadar kumpulan orang dalam kelompok atau jamaah tertentu. Tetapi organisasi mempunyai dua atribut inti yakni sekumpulan orang dan sistem. Sistem adalah kesatuan nilai integral yang dianut dan dipatuhi untuk dijalani bersama agar mencapai tujuan bersama (bukan sekadar tujuan yang sama).

GAYA KEPEMIMPINAN

November 26, 2009

Tanpa kita sadari bahwa sebetulnya kita masing-masing akan menjadi pemimpin, minimal akan menjadi pemimpin diri kita sendiri. Tapi sebetulnya ada bemacam gaya kepemimpinan menurut pakarnya:

1. Gaya kepemimpinan otoriter atau otokrasi, artinya sangat memaksakan kehendak kekuasaannya kepada bawahan.
2. Gaya kepemimpinan demokratis, artinya bersikap tengah antara memaksakakan kehendak dan memberi kelonggaran kepada bawahan.
3. Gaya kepemimpinan laissez fasif, yakni sikap membebaskan bawahan; dan
4. Gaya kepemimpinan situasional, yakni suatu sikap yang lebih melihat situasi: kapan harus bersikap memaksa, kapan harus moderat, dan pada situasi apa pula pemimpin harus memberikan keleluasaan pada bawahan.

Nah sekarang kita lihat satu persatu ciri-ciri dari masing-masing gaya kepemimpinan tersebut:

1. Ciri-ciri Kepemimpinan Bertipe Otoriter:
1) Tanpa musyawarah
2) Tidak mau menerima saran dari bawahan
3) Mementingkan diri sendiri dan kelompok
4) Selalu memerintah
5) Memberikan tugas mendadak
6) Cenderung menyukai bawahan yang ABS (asal bapak senang)
7) Sikap keras terhadap bawahan
8) Setiap keputusannya tidak dapat dibantah
9) Kekuasaan mutlak di tangan pimpinan
10) Hubungan dengan bawahan kurang serasi
11) Bertindak sewenang-wenang
12) Tanpa kenal ampun atas kesalahan bawahan
13) Kurang mempercayai bawahan
14) Kurang mendorong semangat kerja bawahan
15) Kurang mawas diri
16) Selalu tertutup
17) Suka mengancam
18) Kurang menghiraukan usulan bawahan
19) Ada rasa bangga bila bawahannya takut
20) Tidak suka bawahan pandai dan berkembang
21) Kurang memiliki rasa kekeluargaan
22) Sering marah-marah
23) Senang sanjungan.

2. Ciri-ciri Kepemimpinan Bertipe Demokratis:

1) Pendapatnya terfokus pada hasil musyawarah
2) Tenggang rasa
3) Memberi kesempatan pengembangan karier bawahan
4) Selalu menerima kritik bawahan
5) Menciptakan suasana kekeluargaan
6) Mengetahui kekurangan dan kelebihan bawahan
7) Komunikatif dengan bawahan
8) Partisipasif dengan bawahan
9) Tanggap terhadap situasi
10) Kurang mementingkan diri sendiri
11) Mawas diri
12) Tidak bersikap menggurui
13) Senang bawahan kreatif
14) Menerima usulan atau pendapat bawahan
15) Lapang dada
16) Terbuka
17) Mendorong bawahan untuk mencapai hasil yang baik
18) Tidak sombong
19) Menghargai pendapat bawahan
20) Mau membirnbing bawahan
21) Mau bekerja sama dengan bawahan
22) Tidak mudah putus asa
23) Tujuannya dipahami bawahan
24) Percaya pada bawahan
25) Tidak berjarak dengan bawahan
26) Adil dan bijaksana
27) Suka rapat (musyawarah)
28) Mau mendelegasikan tugas kepada bawahan
29) Pemaaf pada bawahan
30) Selalu mendahulukan hal-hal yang penting

3. Ciri-ciri Kepemimpinan Bertipe laissez fasif :
1) Pemimpin bersikap pasif
2) Semua tugas diberikan kepada bawahan
3) Tidak tegas
4) Kurang memperhatikan kekurangan dan kelebihan bawahan
5) Percaya kepada bawahan
6) Pelaksanaan pekerjaan tidak terkendali
7) Mudah dibohongi bawahan
8) Kurang kreatif
9) Kurang mawas diri
10) Perencanaan dan tujuannya kurang jelas
11) Kurang memberikan dorongan pada bawahan
12) Banyak bawahan merasa dirinya sebagai orang yang berkuasa
13) Kurang punya rasa tanggung jawab
14) Kurang berwibawa
15) Menjunjung tinggi hak asasi
16) Menghargai pendapat bawahan (orang lain)
17) Kurang bermusyawarah

4. Ciri-ciri Kepemimpinan Bertipe Situasional:
1) Supel atau luwes
2) Berwawasan luas
3) Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
4) Mampu menggerakkan bawahan
5) Bersikap keras pada saat-saat tertentu
6) Berprinsip dan konsisten terhadap suatu masalah
7) Mempunyai tujuan yang jelas
8) Bersikap terbuka bila menyangkut bawahan
9) Mau membantu memecahkan permasalahan bawahan
10) Mengutamakan suasana kekeluargaan
11) Berkomunikasi dengan baik
12) Mengutamakan produktivitas kerja
13) Bertanggung jawab
14) Mau memberikan tanggung jawab pada bawahan
15) Memberi kesempatan pada bawahan untuk mengutarakan pendapat pada saat-saat tertentu
16) Melakukan atau mengutamakan pengawasan melekat
17) Mengetahui kelemahan dan kelebihan bawahan
18) Mengutamakan kepentingan bersama,
19) Bersikap tegas dalam situasi dan kondisi tertentu
20) Mau menerima saran dan kritik dari bawahan

Setelah kita tahu ciri-ciri dari gaya kepemimpinan, pertanyaannya adalah, kita sebagai pimpinan entah di perusahaan atau di rumah atau di organisasi termasuk kategori yang mana? Hanya kita sendiri yangn bisa menjawab.

Semoga bermanfaat menambah wawasan.

TEORI KEPEMIMPINAN

November 26, 2009

Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Genetic Theory

Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya.

Traits theory

Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
- Kemampuan Intelektual
- Kematangan Pribadi
- Pendidikan
- Statuts Sosial Ekonomi
- Human Relation
- Motivasi Intrinsik
- Dorongan untuk maju

Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api, angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.

Behavioral Theory

Karena ketyerbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif.

a. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an. Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez – Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.

b. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez – faire dengan titik dengan demokratis.

c. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership – Leadership style matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan, mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya.

Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan memakai istilah job-centered dan employee-centered.

d. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.

Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.

Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain:
- Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
- Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
- Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
- Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi

Situational Leadership

Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat.

Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang.
- Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.
- Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.

a. Fiedler Contingency model
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit.
Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu:
- task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau unstructured task
- leader-member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan, apakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
- Position power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power yaitu:

-> legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin
-> reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan
-> coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman
-> expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya
-> referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya
-> information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya.

b. Model kepemimpinan situasional ‘Life Cycle’

Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.

Ada 4 tingkat kematangan bawahan, yaitu:
- M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
- M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
- M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
- M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.

Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
- Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya.
- Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
- Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.

Transformational Leadership

Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya pemimpin transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa.

Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya bagaimana pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok, bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan karya luar biasa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.